BAB I. PENULISAN / PEMBUATAN

Kegiatan “mengukur” atau “melakukan pengukuran” adalah merupakan kegiatan yang paling umum dilakukan dan merupakan tindakan yang mengawali kegiatan evaluasi dalam penilaian hasil belajar. Kegiatan “mengukur” itu pada umumnya tertuang dalam bentuk tes dengan berbagai variasinya.

Teknik tes bukan satu-satunya teknik untuk melakukan evaluasi hasil belajar, sebab masih ada teknik lainnya yang dapat dipergunakan, yaitu teknik non-tes. Dengan teknik non-tes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa “menguji” peserta didik, melainkan dengan berbagai cara, seperti:

  1. Skala
  2. Angket
  3. Wawancara
  4. Observasi
  5. Dll.

1. SKALA

Pengertian

Skala adalah alat untuk mengukur nilai, sikap, minat, perhatian, yang disusun dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden dan hasilnya dalam bentuk rentangan nilai sesuai dengan kriteria yang ditentukan.

Jenis-jenis Skala

Skala penilaian

Skala penilaian mengukur penampilan atau perilaku orang lain oleh seseorang melalui pernyataan perilaku individu pada suatu kategori yang bermakna nilai. Titik atau kategori diberi nilai rentangan mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah. Rentangan bisa dalam bentuk huruf, angka, kategori seperti; tinggi, sedang, baik, kurang, dsb.

Contoh:

Skala Penilaian

Penampilan Guru Mengajar

Nama guru: ……………………… Bidang studi yang diajarkan: ………………………

No Pernyataan Skala nilai
A B C D
1.2.3.

 

4.

5.

Penguasaan bahan pelajaranHubungan dengan siswaBahasa yang digunakan

 

Pemakaian metode dan alat bantu mengajar

Jawaban terhadap pertanyaan siswa

Keterangan

A: baik sekali           C: cukup

B: Baik                     D: kurang

Hal yang penting diperhatikan dalam skala penilaian adalah kriteria skala nilai, yakni penjelasan operasional untuk setiap alternatif jawaban. Adanya kriteria yang jelas untuk setiap alternatif jawaban akan mempermudah pemberian penilaian dan terhindar dari subjektivitas penilai. Tugas penilai hanya memberi tanda cek (V) dalam kolom rentangan nilai. Penyusunan skala penilaian hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Tentukan tujuan yang akan dicapai dari skala penilaian ini sehingga jelas apa yang seharusnya dinilai.
  2. Berdasarkan tujuan tersebut, tentukan aspek atau variabel yang akan diungkap melalui instrumen ini.
  3. Tetapkan bentuk rentangan nilai yang akan digunakan, misalnya nilai angka atau kategori.
  4. Buatlah item-item pernyataan yang akan dinilai dalam kalimat yang singkat tetapi bermakna secara logis dan sistematis.
  5. Ada baiknya menetapkan pedoman mengolah dan menafsirkan hasil yang diperoleh dari penilaian ini.

Skala yang penilaiannya tidak dibuat dalam bentuk rentangan nilai tetapi hanya mendiskripsikan apa adanya, disebut daftar checklist.

Skala sikap

Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif), menolak (negatif), dan netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang. Sikap juga dapat diartikan reaksi seseorang terhadap suatu stimulus yang datang pada dirinya.

Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden, apakah pernyataan itu didukung atau ditolak, melalui rentangan nilai tertentu. Oleh sebab itu, pernyataan yang diajukan dibagi ke dalam dua kategori, yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif. Pernyataan sikap, di samping kategori positif dan negatif, harus pula mencerminkan dimensi sikap, yakni kognisi, afeksi, dan konasi.

Bentuk Skala Sikap

Bentuk skala yang dapat di pergunakan dalam pengukuran bidang pendidikan yaitu:[1]

1.Skala Likert

Skala likert ialah skala yang dapat di pergunakan untuk mengukur sikap,pendapat,dan persepsi seseorang atau sekelompok  orang tentang suatu gejala atau fenomena pendidikan. Skala ini memuat item yang diperkirakan sama dalam sikap atau beban nilainya, subjek merespon dengan berbagai tingkat intensitas berdasarkan rentang skala antara dua sudut yang berlawanan, misalnya:

Setuju – tidak setuju

Suka – tak suka

Menerima –menolak

Model skala ini banyak digunakan dalam kegiatan penelitian, karena lebih mudah mengembangkannya dan interval skalanya sama.

Contoh:

Semua peserta latihan dapat menyusun program studinya sendiri.

Alternatif jawaban :

Sangat setuju ( SS ), Setuju ( S ), Ragu-Ragu ( RR ), Sangat Tidak Setuju ( STS )

2. Skala Guttman

Skala guttman yaitu skala yang mengiginkan tipe jawan tegas, seperti jawaban benar salah,ya – tidak, pernah – tidak pernah,positif- negatif, tinggi –rendah, baik –buruk, dan seterusnya.pada skala Guttman ada dua interval yaitu setuju dan tidak setuju.selain dapat dibuat dalam bentuk pertanyaan pilihan ganda, skala Guttman dapat juga dibuat dalam bentuk daftar checklist.

3. Semantik Differensial

Skala differensial yaitu skala untuk mengukur sikap,tetapi bentuknya bukan pilihan ganda atau checklis, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum dimana jawaban yang sangat positif terletak dibagian kanan garis,dan jawaban negatif disebelah kiri garis, atau sebaliknya.

Data yang diperoleh melalui pengukuran dengan skala mantik differensial adalah data interval. Skala ini digunakan untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu yang dimiliki seseorang. Sebagai contoh penggunaan skala semantik differensial ialah menilai gaya kepemimpinan kepala sekolah.

4. Rating Scale

Data –data skala yang diperoleh melaui tiga macam skala diatas adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Berbeda dengan rating scale,data yang diperoleh adalh data kuanitatif(angka) yakng kemudian ditafsirkan dalm pengertian kualitatif. Skala ini lebih fleksibel, tidak saja untuk mengukur sikap tetapi juga digunakan untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lingkungan, seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, pengetahuan,kemampuan,dan lain-lain.

5. Skala Thurstone

Skala thurstone ialah skala yang disusun dengan memilih butir yang berbentuk skala interval. Setiap butir memiliki kunci skor dan jika diurut, kunci skor menghasilkan nilai yang berjarak sama. Skala thurstone dibuat dalam bentuk sejumlah (40-50) pertanyaan yang relevan dengan variabel yang hendak diukurkemudian sejumlah ahli (20-40) orang yang menilai relevansi pertanyaan itu dengan konten atau konstruk variabel yang hendak diukur. Nilai 1 pada skala diatas menyatakan sangat tidak relevan, sedangkan nilai 11 menyatakan sangat relevan.    

Prosedur Penyusunan Skala Sikap

Langkah-langkah penyusunan skala pada umumnya adalah:[2]

  1. Tentukan objek yang dituju, kemudian tetapkan variabel yang akan diukur dengan skala tersebut
  2. Lakukan analisis variabel tersebut menjadi beberapa subvariabel atau dimensi variabel, lalu kembangkan indikator setiap dimensi tersebut
  3. Dari setiap indikator, tentukan ruang lingkup pernyataan sikap yang berkenaan dengan aspek kognisi, afeksi, dan konasi terhadap objek sikap.
  4. Susunlah pernyataan untuk masing-masing aspek tersebut dalam dua kategori yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif, secara seimbang banyaknya.

Prosedur Penyusunan Item Utuk Skala Sikap

Pada garis besarnya penysunan item untuk skala, perlu ditempuh langkah – langkah sebagai berikut:[3]

  1. Tentukan obyek atau gejala apa
  2. Rumuskan perilaku apa yang mengacu sikap apa terhadap obyek atau gejala tersebut
  3. Rumuskan karakteristik dari perilaku sikap tersebut
  4. Rincilah lebih lanjut tiap karekteristik menjdi sejumlah atribut yang lebih speifik.
  5. Tentukan indicator penilaian terhadap setiap atribut tersebut
  6. Sususnlah perangkat item sesuai dengan indicator yang telah dirumuskan
  7. suatu skala terdiri dari antara 20 sampai dengan 30 item
  8. Susunlah item tersebut, yang terdiri dari separuhnya dalam bentuk pernyataan positif dan separuhnya dalm bentuk pernyataan negative
  9. Tentukan banyak skala: lima atau  tujuh atau sebelas alternative
  10. tentukan bobot nilai bagi tiap skalanya. Misalnya 4,3,2,1.0 untuk lima nilai skala, sebagai dasar perhitungan kuantitatif.

Contoh:[4]

Misalnya menilai bagaimana sikap siswa terhadap mata pelajaran matematika di sekolah. Subvariabelnya adalah:

a)      sikap terhadap tujuan dan isi mata pelajaran matematika

b)      sikap terhadap cara mempelajari mata pelajaran matematika

c)      sikap terhadap guru mata pelajaran matematika

d)     dst

setiap subvariabel tersebut kemudian dijabarkan indikator-indikatornya:

1)      paham dan yakin akan pentingnya tujuan dan isi matematika

2)      kemauan untuk mempelajari materi matematika

3)      kemauan untuk menerapkan atau menggunakan konsep matematika

4)      dst.

SKALA SIKAP

Jenis kelamin       : …………………………………..

Umur                     : ………………………………….. tahun

Kelas/ semester    : …………………………………..

Petunjuk:

Terhadap setiap pernyataan di bawah ini Anda diminta menilainya dengan cara memilih salah satu di antara sangat setuju, setuju, tidak punya pendapat, tidak setuju, dan sangat tidak setuju.

Pernyataan Sangat setuju Setuju Tidak punya pendapat Tidak setuju Sangat tidak setuju
  1. Saya tidak perlu memahami tujuan pelajaran matematika
  2. Pelajaran matematika harus menarik minat siswa
  3. Konsep-konsep yang ada dalam matematika terlalu abstrak
  4. Dst.

Tanda tangan responden

………………………………………………….

2. ANGKET

Angket juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam rangka penilaian hasil belajar. Berbeda dengan wawancara dimana penilaian (evaluator) berhadapan secara langsung dengan peserta didik atau dengan pihak lainnya, maka dengan menggunakan angket, pengumpulan data sebagai bahan penilaian hasil belajar  jauh lebih praktis,menghemat waktu dan tenaga.

Petunjuk yang lebih teknis dalam membuat kuesioner adalah sebagai berikut:[5]

  1. Mulai dengan pengantar yang isinya permohonan mengisi kuesioner sambil dijelaskan maksud dan tujuannya.
  2. Jelaskan petunjuk atau cara mengisinya supaya tidak salah
  3. Mulai dengan pertanyaan untuk mengungkapkan responden
  4. Isi pertanyaan sebaiknya dibuat beberapa kategori atau bagian sesuai dengan variabel yang diungkapkan sehingga mudah mengolahnya.
  5. Rumusan pertanyaan dibuat singkat, tetapi jelas sehingga tidak membingungkan dan mengakibatkan salah penafsiran.
  6. Hubungan antara pertanyaan yang satu dengan yang lain harus dijaga sehingga tampak logikanya dalam satu rangkaian yang sistematis.
  7. Usahakan kemungkinan agar jawaban, kalimat, atau rumusannya tidak lebih panjang dari pertanyaan.
  8. Kuesioner yang terlalu banyak atau terlalu panjang akan melelahkan dan membosankan responden sehingga pengisiannya tidak akan objektif lagi.
  9. Ada baiknya kuesioner diakhiri dengan tanda tangan si pengisi untuk menjamin keabsahan jawabannya.

Contoh 1 : Kuesioner Bentuk Pilihan Ganda untuk Mengungkap Hasil Belajar Ranah Afektif (Kurikulum dan GBPP mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Tahun 1994)[6]

  1. Terhadap teman-teman sekelas saya yang rajian dan khusu’ dalam menjalankan ibadah shalat, saya:
  1. Merasa tidak harus meniru mereka
  2. Merasa belum pernah memikirkan untuk shalat dengan rajin dan khusu’
  3. Merasa ingin seperti mereka, tetap[i terasa masih sulit
  4. Sedang berusaha agar rajin dan khusu’
  5. Merasa iri hati dan ingin seperti mereka.

Contoh 2 : Kuesioner Bentuk Skala Likert dalam Rangka Mengungkap Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Ranah Afektif[7]

  1. Membayar infaq atau shadaqah itu memang baik untuk dikerjakan, akan tetapi sebenarnya bagi orang yang telah membayarkan zakatnya tidak perlu lagi untuk membayar infaq atau shadaqah.

Terhadap pertanyaan tersebut, saya:

  1. Sangat setuju
  2. Setuju
  3. Ragu-ragu
  4. Tidak setuju
  5. Sangat tidak setuju

Kuesioner sebagai alat evaluasi juga sangat berguna untuk mengungkap latar belakang orang tua peserta didik maupun peserta didik itu sendiri, dimana data yang berhasil diperoleh melalui kuesioner itu pada suatu saat akan diperlukan, terutama apabila terjadi kasus-kasus tertentu yang menyangkut diri peserta didik. Contoh dari kuesioner dimaksud diatas adalah sebagai berikut:[8]

I.ORANG TUA SISWA:

A. Ayah

1. nama lengkap ayah               :

2. tempat dan tanggal lahir     :

3. jenjang pendidikan               :  a. (  ) pendidikan dasar

b. (  ) pendidika menengah

c. (  ) pendidikan tinggi

4. jenis pekerjaan                      :  a. (  ) petani

b. (  ) pedagang

c. (  ) pengusaha

d. (  ) pegawai negri sipil

e. (  ) Anggota ABRI

f. (  ) Tidak mempunyai pekerjaan tetap

B. Ibu

1. nama lengkap                           :

2. tempat dan tanggal lahir          :

3. jenjang pendidikan                   :a. (  ) pendidika dasar

b. (  ) pendidikan menengah

c. (  ) pendidikan tinggi

4.jenis pekerjaan                          : a. (  ) petani

b. (  ) pedagang

c. (  ) Pegawai Negri Sipil

e. (  ) AnggotaABRI

f. (  ) Tidak bekerja

II. SISWA :

1. Nama lengkap                      :

2. tempat dan tanggal lahir      :

3. jenis kelamin                        : a. (  ) Pria

b. (  ) Wanita

4. status anak dalam keluarga  : a. (  ) Anak sulung

b. (  ) anak bungsu

c. (  ) anak ke……

5. jumlah saudara kandung         : ……..orang

6.Tinggal bersama ayah ibu        : a. (  ) ya

b. (  ) tidak

7.pernah dirawat dirumah sakit   : a. (  ) belum pernah

Yang serius?                            b. (  ) pernah, karena menderita sakit……..

…………….dan seterusnya………………………………

3. WAWANCARA

Pengertian

Secara umum yang dimaksud dengan wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan. Ada dua jenis wawancara yang dapat digunakan sebagai alat evaluasi, yaitu:

  1. Wawancara terpimpin (guided Interview) yang juga dikenal dengan istilah wawancara berstruktur atau wawancara sistematis
  2. Wawancara tidak terpimpin (unguided Interview) yang sering dikenal dengan wawancara sederhana atau wawancara tidak sistematis ataupun wawancara bebas

Mempersiapkan Wawancara

Sebelum melaksanakan wawancara, perlu dirancang pedoman wawancara. Pedoman ini disusun dengan langkah-langkah sebagai berikut:[9]

  1. Tentukan tujuan yang ingin dicapai dari wawancara.
  2. Berdasarkan tujuan di atas tentukan aspek-aspek yang akan diungkap dari wawancara tersebut. Aspek-aspek tersebut dijadikan dasar dalam menyusun materi pertanyaan wawancara.
  3. Tentukan bentuk pertanyaan yang akan digunakan, yakni bentuk berstruktur atau bentuk terbuka
  4. Buatlah pertanyaan wawancara sesuai dengan analisis butir (c) di atas, yakni membuat pertanyaan yang berstruktur atau yang bebas
  5. Ada baiknya apabila dibuat pula pedoman mengolah dan menafsirkan hasil wawancara.

Contoh pedoman wawancara terbuka:

Tujuan                        : Memperoleh informasi mengenai cara belajar yang dilakukan oleh siswa di rumahnya

Bentuk                        : Wawancara bebas

Responden                 : Siswa yang memperoleh prestasi belajar cukup tinggi.

Nama siswa                : ……………………………………………………

Kelas / semester         : ……………………………………………………

Jenis kelamin             : ……………………………………………………

Pertanyaan guru Jawaban siswa Komentar dan kesimpulan hasil wawancara
  1. kapan dan berapa lama anda belajar di rumah?
  2. bagaimana cara anda mempersiapkan diri untuk belajar secara efektif?
  3. kegiatan apa yang anda lakukan pada waktu mempelajari bahan pelajaran?
  4. seandainya anda mengalami kesulitan dalam mempelajarinya, usaha apa yang anda lakukan untuk mengatasi kesulitan tersebut?
  5. bagaimana cara yang anda lakukan untuk mengetahui tingkat penguasaan belajar yang telah anda capai?
  6. dst.

Tanggal, bulan, tahun

Pewawancara

……………………………….

4. PENGAMATAN

Pengertian

Pengamatan merupakan cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan / observasi. Observasi sevagai alat evaluasi banyak digunakan untuk menilai tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan.

Macam-Macam Observasi

Observasi dapat dilakukan secara:[10]

  1. Partisipatif

Observer (dalam hal ini pendidik yang sedang melakukan kegiatan observasi) melibatkan diri di tengah-tengah kegiatan observee (yang diamati)

  1. Non-Partisipatif

Evaluator / observer berada “di luar garis”, seolah-olah sebagai penonton belaka.

  1. Eksperimental

Observasi yang dilakukan dalam situasi buatan. Pada observasi eksperimental, peserta didik dikenai perlakuan (treatment) atau suatu kondisi tertentu, maka diperlukan perencanaan dan persiapan yang benar-benar matang.

  1. Non- Eksperimental

Observasi dilakukan dalam situasi yang wajar, pelaksanaannya jauh lebih sederhana

  1. Sistematis

Observasi yang dilakukan dengan terlebih dahulu membuat perencanaan secara matang. Pada jenis ini, observasi dilaksanakan dengan berlandaskan pada kerangka kerja yang memuat faktor-faktor yang telah diatur kategorisasinya.

  1. Non-sistematis

Observasi di mana observer atau evaluator dalam melakukan pengamatan dan pencatatan tidak dibatasi oleh kerangka kerja yang pasti, maka kegiatan observasi hanya dibatasi oleh tujuan dari observasi itu sendiri.

Membuat Pedoman Observasi

Langkah yang ditempuh dalam membuat pedoman observasi langsung adalah sebagai berikut :[11]

  1. Lakukan terlebih dahulu observasi langsung terhadap suatu proses tingkah laku, misalnya penampilan guru di kelas. Lalu catat kegiatan yang dilakukannya dari awal sampai akhir pelajaran. Hal ini dilakukan agar dapat menentukan jenis perilaku guru pada saat mengajarkan sebagai segi-segi yang akan diamati
  2. Berdasarkan gambaran dari langkah ( a ) di atas, penilai menentukan segi-segi mana dari perilaku guru tersebut yang akan diamati sehubungan dengan keperluannya. Urutkan segi-sejgi tersebut sesuai dengan apa yang seharusnya berdasarkan khasanah pengetahuan ilmiah, misalnya berdasarkan teori mengajar. Rumusan tingkah laku tersebutu harus jelas dan spesifik sehingga dapat diamati oleh pengamatnya
  3. Tentukan bentuk pedoman observasi tersebut, apakah benruk bebas ( tak perlu jawaban, tetapi mencatat apa yang tampak ) atau pedoman yangn berstruktur ( memakai kemungkinan jawaban ). Bila dipakai bentuk yang berstruktur, tetapkan pilihan jawaban serta indikator-indikator dan setiap jawaban yang disediakan sebagai pegangan bagi pengamat pada saat melakukan observasi nanti
  4. Sebelum observasi dilaksanakan, diskusikan dahulu pedoman observasi yang telah dibuat dan calon observanagar setiap segi yang diamati dapat dipahami maknanya dan bagaimana cara mengisinya.
  5. Bila ada hal khusus yang menarik,tetapi tidak ada dalam pedoman observasi, sebaiknya diadakan catatan khusus atau komentar pengamat di bagian akhir pedoman observasi.

Pencatatan hasil observasi itu pada umumnya jauh lebih sukar daripada mencatat jawaban-jawaban yang diberikan oleh peserta didik terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dalam suatu tes. Pencatatan terhadap segala sesuatu yang dapat disaksikan dalam observasi itu penting sekali sebab hasilnya akan dijadikan landasan untuk menilai makna yang terkandung di balik tingkah laku peserta didik tersebut. Pedoman observasi itu wujud kongkretnya adalah sebuah atau beberapa buah formulir (blangko atau form) yang di dalamnya dimuat segi-segi, aspek-aspek atau tingkah laku yang perlu diamati dan dicatat pada waktu berlangsungnya kegiatan peserta didik.

Contoh:

Mata Pelajaran      : Keterampilan

Topik                       : Membuat Kaligrafi dari kertas

Kelas                        : ……………………………………………………

Nama Siswa           : ……………………………………………………

Hari & Tanggal      : ……………………………………………………

Jam Pelajaran        : ……………………………………………………

No Kegiatan / Aspek yang dinilai Skor / Nilai Keterangan
1.2.3.

 

4.

5.

6.

7.

8.

Persiapan alat-alat ( bahan )Kombinasi bahanKombinasi warna

 

Cara mengerjakan

Sikap waktu mengerjakan

Ketetapan waktu mengerjakan

Kecekatan

Hasil pekerjaan

………………

 

……

……

……

……

……

Jumlah nilai ……

Hasil penilaian dengan menggunakan instrumen tersebut diatas sifatnya adalah individual. Setelah selesai, nilai-nilai individual itu dimasukkan ke dalam daftar nilai yang sifatnya kolektif, seperti contoh berikut ini:

Mata pelajaran      : Keterampilan

Topik                        : Membuat Kaligrafi dari kertas

Kelas                        : …………………………………………..

Cawu/semester       : …………………………………………..

No. Nama Siswa Skor / Nilai untuk tiap-tiap kegiatan / Aspek Jumlah Rata-rata
1 2 3 4 5 6 7 8
1.2.3.

 

4.

…………………………………………………………………………………

 

………………………….

Dan seterusnya

………

 

………

 

………

 

… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …………………………………. ……………….. ……………….. ……………….. ……………….. ……………….. ………………..

Contoh Instrumen Observasi berupa rating scale, dalam rangka menilai sikap peserta didik dalam mengikuti pengajaran pendidikan agama islam di sekolah:

Nama siswa          : ……………………….

Kelas                      : ……………………….

No. Kegiatan / aspek yang dinilai Selalu Sering Kadang-kadang Tidak pernah
1.2.3.

 

4.

5.

6.

7.

Datang tepat pada waktunyaRapi dalam berpakaianRapi dalam menulis dan mengerjakan pekerjaan

 

Menjaga kebersihan badan

Hormat kepada guru

Rukun dengan teman-teman sekelasnya

Dan seterusnya…

Jumlah skor

BAB II. PENGOLAHAN DATA HASIL NON TES

Pada umumnya data hasil nontes bertujuan untuk mendeskripsikan hasil pengukuran sehingga dapat dilihat kecenderungan jawaban responden melalui alat ukur tersebut. Misalnya bagaimana kecenderungan jawaban yang diperoleh dari wawancara, kuesioner, observasi, skala.

Pengolahan data hasil wawancara dan kuesioner

Dari data hasil wawancara dan atau kuesioner pada umumnya dicari frekuensi jawaban responden untuk setiap alternatif yang ada pada setiap soal. Frekuensi yang paling tinggi ditafsirkan sebagai kecenderungan jawaban alat ukur tsb, seperti;

Contoh: Melalui kuesioner ataupun wawancara diungkapkan pandangan siswa mengenai guru yang diharapkan dalam:

  1. Kemampuan mengajar
  2. Hubungan dengan siswa

Kuesioner atau wawancara diajukan kepada 40 orang siswa dengan pertanyaan sbb.:

  1. Guru yang saya harapkan adalah guru yang:
  1. Menguasai bahan pelajaran atau pandai dalam bidang ilmunya.
  2. Cara menjelaskan bahannya dapat saya pahami sekalipun tidak begitu pandai/
  3. Pandai dalam bidang ilmunya dan dapat menjelaskannya kepada siswa dengan baik.
  4. Sebaiknya dimulai dari yang umum, kemudian dibahas secara khusus
  5. Sebaiknya dimulai dari yang khusus, kemudian menuju kepada yang umum.
  6. Dimulai dari mana saja asal dijelaskan secara sistematis.
  1. Pada waktu mengerjakan bahan pelajaran:

…dan seterusnya…

Kuesioner yang telah diisi oleh siswa kemudian diperiksa dan diolah dengan menghitung frekuensi jawaban seluruh siswa terhadap setiap pertanyaan tersebut. Misalnya hasil pemeriksaan tersebut sbb.:[12]

Tabel 1: Frekuensi jawaban siswa

Mengenai masalah kemampuan guru mengajar (n=40)

Masalah yang diungkapkan F % Peringkat jawaban
  1. Kemampuan mengajar

1.1.    Kemampuan mengajar

  1. Menguasai bahan
  2. Mampu menjelaskan bahan
  3. Menguasai bahan dan mampu menjelaskannya

1.2.   Prosedur mengajarkan bahan pelajaran

  1. Dimulai dari yang umum
  2. Dimulai dari yang khusus
  3. Harus sistematis
412

 

24

10

6

24

1030

 

60

25

12

60

32

 

1

2

3

1

Cara lain dalam mengolah data diatas ialah dengan menggunakan khi kuadrat (x2) rumus yang digunakan :

Dalam khi kuadrat, yang dicari ialah adakah perbedaan yang berarti di antara frekuensi hasil; pengamatan atau jawaban nyata (fo ) dengan frekuensi jawaban yang diharapkan ( fe ). Jika ada perbedaan, artinya jawaban tersebut betul-betul adanya, bukan karena faktor kebetulan.

Contoh:

Kita ambil jawaban nomor 1 dari tabel 1

Jawaban fo fe
a.menguasai bahanb.mampu menjelaskanc. menguasai bahan dan dapat menjelaskannya 41224 13,313,313,3 6,500,138,61
X2 = 15,24

Ket:

  • Fe = 13,3 diperoleh dari 40 / 3 = 13 3
  • Harga x2 = 15,24 kemudian dibandingkan dengan harga tabel untuk tingkat kepercayaan 0,05 dengan derajat bebas 3-1 (alternatif jawaban = 3)
  • Harga x2 dalam tabel = 5,99.

Dengan demikian x2 = 15,24 > 5,99 sehingga perbedaan itu cukup berarti ini berarti bahwa interpretasi yang menyatakan bahwa guru yang diharapkan adalah guru yang menguasai bahan dan dapat menjelaskannya pada siswa adalah sah sebagai kesimpulan dari data tsb.

Pengolahan data hasil observasi

Contoh: [13]

OBSERVASI KEMAMPUAN GURU DALAM MENGAJAR

Nama guru            : ………………………..                                 Pendidikan :…………………………..

Aspek yang diamati Nilai pengamatan
4 3 2 1
  1. Penguasaan bahan
  2. Kemampuan menjelaskan bahan
  3. Hubungan dengan siswa
  4. Penguasaan kelas
  5. Keaktifan belajar siswa
vv vvv

Pengamat,

…………………………

Dari contoh di atas skor hasil observasi adalah

3 + 4 + 3 + 4 + 3 = 17

Nilai rata-rata untuk kelima aspek tsb. Adalah 17/5 = 3,4. Skor ini cukup tinggi sebab maksimum rata-rata atau skor maksimum untuk setiap aspek adalah 4 atau 20 untuk semua aspek (5×4).

Skor ini bisa juga dikonversikan ke dalam bentuk standar 100 atau standar 10.

  • Konversi ke dalam standar 100 adalah 17/20 x 100 = 85
  • Konversi ke dalam standar 10 adalah 17/20 x 10 = 8,5

Jika dibuat interpretasi untuk setiap aspek, maka dapat disimpulkan bahwa guru  tersebut  sangat istimewa dalam hal kemampuan menjelaskan dan penggunaan kelas, sedangkan dalam penguasaan bahan, komunikasi dengan siswa, dan dalam mengaktifkan siswa termasuk memuaskan.

Pengolahan data skala penilain atau skala sikap

Data hasil skala pengolahannya hampir sama dengan pengolahan data hasil observasi yang menggunakan skor atau nilai dalam pengamatannya. Dengan demikian, untuk setiap siswa yang diukur melalui skala penilaian atau skala sikap bisa ditentukan;

a)      Perolehan skor dari seluruh butir pertanyaan,

b)      Skor rata-rata dari setiap pertanyaan dengan membagi jumlah skor oleh banyaknya pertanyaan

c)      Interpretasi terhadap pertanyaan mana yang positif atau baik dan pertanyaan atau aspek mana yang negatif atau kurang baik

Lebih jauh lagi data hasil penilaian dan skala sikap sebenarnya menyerupai data hasil tes, dengan demikian dapat diolah seperti mengolah data hasil tes.

Untuk skala sikap, berilah skor terhadap jawaban siswa dengan ketentuan sbb: untuk pernyataan positif (mendukung) ialah 5 untuk sangat setuju, dst. Untuk pernyataan negatif (menolak) ialah 5 untuk sangat setuju, dst.

Konversi Nilai

Standar yang sering digunakan dalam menilai hasil belajar dapat dibedakan ke dalam bebrapa kategori, yakni:

  1. Standar seratus (0-100)
  2. Standar sepuluh (0-10)
  3. Standar empat (1-4) atau dengan huruf (A-B-C-D)

Dalam konversi nilai digunakan dua cara, yakni:

a. Konversi tanpa menggunakan nilai rata-rata dan simpangan baku.

Cara ini sangat sederhana, yakni dengan menentukan kriteria sebagai dasar untuk melakukan konversi nilai.

Skor (%) Nilai konversi
Huruf Standar 10 Standar 4
(90-99)(80-89)(70-79)

 

(60-69)

Kurang dari 60

ABC

 

D

E (gagal)

9 / 1087

 

6

Gagal

432

 

1

Gaga

  1. b. Konversi nilai dengan menggunakan nilai rata-rata dan simpangan baku

Konversi nilai ini perlu dihitung terlebih dahulu nilai rata-rata dan simpangan baku yang diperoleh siswa, kemudian terhadap nilai-nilai atai skor mentah tersebut dilakukan konversi. Kriteria yang digunakan untuk melakukan konversi skor mentah ke dalam standar 10 adalah sebagai berikut:

M + 2,25 S      = 10

M + 1,75 S      =   9

M + 1,25 S      =   8

M + 0,75 S      =   7

M + 0,25 S      =   6                             M = nilai rata-rata

M –  0,25 S      =   5                             S  = Simpangan baku (deviansi standar)

M –  0,75 S      =   4

M –  1,25 S      =   3

M –  1,75 S      =   2

M –  2,25 S      =   1

Contoh:

Tes diberikan kepada siswa dalam bentuk tes objektif sebanyak 90 soal. Setiap soal yang dijawab benar diberi skor satu sehingga skor maksimum yang dapat dicapai siswa adalah 90. setelah diperiksa, ternyata skor yang paling tinggi mencapai 50 dan skor terendah 30. nilai rata-rata (setelah dihitung) adalah 40 dan simpangan bakunya 4,0.

Dengan menggunakan rumus atau kriteria tersebut, diperoleh nilai dalam standar sepuluh sebagai berikut:

Standar 10

40 + (2,25) (4,0)          = 49                             10

40 + (1,75) (4,0)          = 47                               9

40 + (1,25) (4,0)          = 45                              8

40 + (0,75) (4,0)          = 43                               7

40 + (0,25) (4,0)          = 41                               6 (batas lulus)

40 –  (0,25) (4,0)          = 39                               5

40 –  (0,75) (4,0)          = 37                               4

40 –  (1,25) (4,0)          = 35                               3

40 –  (1,75) (4,0)          = 33                               2

40 –  (2,25) (4,0)          = 31                               1

Konversi lainnya adalah konversi skor mentah ke dalam standar huruf dan standar empat. Dalam standar ini huruf A setara dengan 4, artinya istimewa; huruf B setara dengan 3, artinya memuaskan; dst. Kriteria yang digunakan pada dasarnya tidak berbeda dengan kriteria untuk konversi nilai ke dalam standar 10.

Secara sederhana untuk nilai C berada pada nilai rata-rata atau deviasi standar nol. Untuk menentukan kedudukan nilai, perlu dicari batas bawah dan batas atas setiap nilai. Ukuran atau kriterianya adalah sebagai berikut:

Nilai    Batas bawah    Batas atas

D         M – 1,5 S        M – 0,5 S

C         M – 0,5 S        M + 0,5 S

B         M + 0,5 S        M + 1,5 S

A         M + 1,5 S        M + 2,5 S

Contoh:

Apabila berdasarkan perhitungan diperoleh nilai rata-rata (M) = 40 dan simpangan baku (S) = 10, mak konversi nilainya menjadi:

Batas bawah D = 40 – 1,5 (10) = 25

Batas bawah D = 40 – 0,5 (10) = 35

Dst., maka hasilnya adalah:

Skor                 Nilai

25-35                              D (1)

36-45                              C (2)

46-55               B (3)

56-60               A (4)

DAFTAR PUSTAKA

  • Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, cetakan ketiga. Bandung: PT Remaja RosdaKarya. 1991
  • H. Djaali dan  Pudji Mulyono. Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: PT Grasindo. 2008.
  • Sudijono, Anas. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2007.
  • Hamalik, Oemar. Teknik Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan. Bandung: Mandar Maju. 1989
  • Rosnita. Evaluasi Pendidikan. Bandung: Cita Pustaka Media. 2007.
  • Majid, Abdul. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja RosdaKarya. 2007.
  • Arikunto, Suharsimi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. 2003


[1] H. Djaali dan  Pudji Mulyono, Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan , Jakarta: PT Grasindo, 2008, hlm. 28-30

 

[2] Nana Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, cetakan ketiga. Bandung: PT Remaja RosdaKarya. 1991, hlm 81

[3] Oemar Hamalik, Teknik Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan. Bandung: Mandar Maju, 1989, HLM. 108-111

[4] Opcit,hlm. 82-84

[5] Ibid, hlm. 71

[6] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007, hlm. 84

[7] Ibid, hlm. 87

[8] Ibid, hlm. 87

[9] Nana Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, cetakan ketiga. Bandung: PT Remaja RosdaKarya. 1991, hlm. 69.

[10] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007, hlm. 77-78

[11] Nana Sudjana,  Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, cetakan ketiga, Bandung: PT Remaja RosdaKarya, 1991, hlm. 85-86

[12] Nana Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, cetakan ketiga. Bandung: PT Remaja RosdaKarya. 1991, hlm. 129-130

[13] Ibid, hlm. 132

About these ads