PENDAHULUAN

Secara umum strategi diartikan sebagai suatu garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan.

Pada mulanya istilah strategi hanya digunakan dalam dunia militer yang diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan. Namun, dewasa ini istilah strategi banyak dipinjam oleh bidang-bidang ilmu lain, termasuk ilmu pendidikan. Dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar strategi diartikan sebagai upaya guru dalam menciptakan suatu system lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses mengajar.

Strategi pembelajaran sangat diperlukan dalam dunia pendidikan karena strategi akan membantu pendidik dalam mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.

Ada beberapa jenis strategi pembelajaran yang dapat digunakan, antara lain:

  1. Strategi pembelajaran inquiri
  2. Strategi pembelajaran ekspositori
  3. Strategi pembelajaran sosial
  4. Strategi pembelajaran tingkah laku

Untuk pemahaman lebih lanjut maka pembahasan mengenai strategi pembelajaran dan hal-hal yang berkaitan dengannya, akan dibahas pada bab berikutnya.

PENGERTIAN STRATEGI BELAJAR MENGAJAR

Strategi secara etimologi berasal dari kata “stratagem” yang berarti siasat atau rencana. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas RI, 2003: 1092), kata strategi mengandung empat pengertian:

  1. Ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa untuk melaksanakan kebijakan tertentu dalam perang dan damai.
  2. Ilmu dan seni memimpin bala tentara untuk menghadapi musuh dalam perang, dalam kondisi yang menguntungkan.
  3. Rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus
  4. Tempat yang baik menurut siasat perang

Sedangkan pembelajaran adalah suatu proses upaya untuk mengarahkan timbulnya perilaku belajar peserta didik atau upaya untuk membelajarkan seseorang. Jadi secara umum strategi pembelajaran diartikan sebagai cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman kegiatan belajar pada siswa.

Berikut pengertian strategi dari beberapa ahli:

  • J R. David (1976)

Strategi adalah “a plan,  method, or series of actifities designed to achieves a particular educational goal”. Dengan demikian strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu

  • Kemp (1995)

Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.

  • Dick & Carey (1985)

Strategi pembelajaran adalah suatu sistem materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa

TAHAPAN MENGAJAR

Tahap pra instruksional (sebelum pelaksanaan KBM)

Tahap pra instruksional merupakan tahap awal yang ditempuh pada saat memulai proses pembelajaran. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pemakaian kata pra- mengandung makna sebelum. Tahap pra instruksional dilakukan antara lain melalui kegiatan:

  • Memberi kesempatan peserta didik untuk bertanya mengenai bahan pelajaran yang belum dikuasai dari pelajaran yang sudah dibelajarkan
  • Mengajukan pertanyaan pada peserta didik mengenai bahan yang telah dibelajarkan
  • Mengulang secara singkat semua aspek yang telah dibelajarkan

Tahap instruksional (pelaksanaan KBM)

Strategi instruksional merupakan spesifikasi bagaimana implikasi teori belajar diubah menjadi prosedur instruksional. Instruksional dapat diartikan sebagai pelaksanaan suatu program, berarti Tahap instruksional merupakan tahap pemberian atau pelaksanaan kegiatan pembelajaran yakni:

  • Materi, tugas, dan contoh-contoh
  • Penggunaan alat Bantu untuk memperjelas dan memudahkan proses pembelajaran
  • Serta menyimpulkan hasil pembelajaran

Tahap evaluasi (setelah pelaksanaan KBM)

Evaluasi berasal dari Bahasa Inggris “evaluation”, yang dalam Bahasa Arab diistilahkan dengan “taqyim” atau “taqwim” yang berasal dari kata Al-Qimah yang berarti nilai (value), jadi secara harfiah evaluasi pendidikan yang disebut taqwim at-tarbiyah dapat diterjemahkan sebagai penilaian dalam bidang kependidikan, atau penilaian terhadap kegiatan belajar mengajar.[1]

Proses evaluasi meliputi 2 langkah, yaitu:

  • Muqayas atau pengukuran (measurement)

Adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Penilaian ini bersifat kuantitatif. Contoh: Rita hanya mampu menjawab 3 pertanyaan dari 10 soal Bahasa Inggris

  • Penilaian (evaluation)

Adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian ini lebih bersifat kualitatif.[2] Contoh: Rita anak yang tidak pandai dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.

Tahap evaluasi dan tindak lanjut adalah tahap yang diperlukan untuk mengetahui keberhasilan tahap instruksional. Fungsi evaluasi, khususnya di bidang pendidikan, yang secara keseluruhan selalu berpusat pada kepentingan peserta didik, yaitu:

  • Insentif untuk meningkatkan belajar

Yaitu mendorong siswa untuk belajar lebih giat lagi, dengan cara memberikan insentif seperti: pujian, hadiah, dan nilai yang tinggi, dan lain-lain.

  • Umpan balik bagi peserta didik

Yaitu penilaian akan membantu siswa memperbaiki dan meningkatkan kemampuan serta keterampilan dalam berbagai mata pelajaran

  • Umpan balik bagi pendidik

Yaitu penilaian akan membantu pendidik dalam mengukur efektifitas pembelajaran

  • Informasi bagi orang tua / wali

Yaitu membantu orang tua untuk mengetahui kemajuan putra-putrinya di sekolah melalui buku laporan kemajuan belajar “rapor”, serta membantu orang tua dalam memberikan reinforcement

  • Informasi seleksi

Yaitu untuk menentukan dengan pasti di kelompok mana siswa ditempatkan[3]

Adapun tahapan evaluasi dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu sebelum kegiatan pembelajaran, selama kegiatan pembelajaran, dan sesudah terjadi kegiatan pembelajaran. Sehubungan dengan perincian ini, yang dilakukan oleh pendidik mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai ungkapan penilaian yang akan dicari jawabannya.

  • Sebelum kegiatan pembelajaran

Sebelum guru memulai dengan memberi pelajaran di awal tahun, pertanyaan yang dilontarkan adalah :

  • Apakah yang akan dicapai oleh siswa melalui pembelajaran ini ?
  • Apakah siswa sudah mempunyai bekal ?
  • Selama kegiatan pembelajaran

Yang dimaksud dengan selama kegiatan pembelajaran adalah suatu jarak waktu mulai pembelajaran berlangsung hingga saat berakhirnya pemberian pengajaran oleh guru. Beberapa pertanyaan yang harus terus menerus dilontarkan adalah

  • Apakah yang akan dicapai oleh siswa melalui pembelajaran ini ? (agar menjiwai setiap langkah pembelajaran)
  • Apakah langkah yang saya ambil sudah benar ?
  • Sesudah kegiatan pembelajaran

Jika guru sudah selesai memberikan pembelajaran (satu pertemuan atau satu semester), ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  • Apakah tujuan yang ingin dicapai oleh siswa sudah tercapai ?
  • Tujuan mana sajakah yang belum tercapai (individu / kelompok) ?
  • Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkannya (individu / kelompok) ?[4]

Sasaran pokok evaluasi mencakup peserta didik dan seluruh penyelenggara pendidikan mulai dari pendidi, kurikulum, sarana dan prasarana, metode pembelajaran, alat atau media dan seluruh unsur yang terlibat dalam proses KBM[5].

Empat masalah pokok yang sangat penting yang dapat menjadikan pedoman dalam keberhasilan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar:

Pertama, spesifikasi dan konflikasi perubahan tingkah laku yang bagaimana yang hendak dicapai dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan itu.

Kedua, memilih cara pndekatan belajar yang dianggap paling  tepat dan efektif untuk mencapai sasaran.

Ketiga, memilih dan menetapkan prosedur, metode dan tehnik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif .

Keempat, menetpkan norma-norma atau kriteria keberhasilan sehingga guru mempunyai pegangan yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai sampai sejauh mana keberhasilan tugas-tugas yang dilakukannya.

Menurut Tabrhani Rusyan dkk, ada berbagai masalah sehubungan dengan strategi belajar mengajar:

  1. Konsep dasar strategi belajar mengajar
    1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku
    2. Menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar mengajar, dan memilih prosedur, metode dan tehnik belajar mengajar,
    3. Norma dan kriteria keberhasilan kegiatan belajar mengaja
  1. Sasaran kegiatan belajar mengajar

Tujuan itu bertahap dan berjenjang yaknitujuan intruksional khusus dan tujuan intruksional umum, tujuan kulikuker, tujuan nasional.

PENDEKATAN BELAJAR MENGAJAR

  1. a. Enquiry Discovery Learning, belajar mencari dan menemukan sendiri materi.

Dalam sistem belajar mengajar ini, guru tidak menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk final, tetapi anak didik diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri dengan mempergunakan tehnik pendekatan pemecahan masalah. Secara garis besar, prosedurnya adalah:

  1. Simulation.Guru memulai proses belajar mengajar dengan bertanya mengajukan persoalan, atau menyuruh peserta didik membaca atau mendengarkan uraian yang  memuatpermasalahan.
  2. Problem  Statement. Anak didik yang diberi kesempatan mengidentifikasikan berbagai permasalahan, sebagian besar memilihnya yang dipandang paling menarik dan fleksibel untuk dipecahkan, selanjutnya harus dirumuskan  dalam bentuk pertanyaan atau hipotesis( jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan )
  3. Data collection( mengumpulkan data ).Untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis ini, siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, melakukan wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri, dan sebagainya
  4. Data processing ( mengolah data ). Semua informasi hasil bacaan, wawancara, diolah, diobservasi, serta disklafikasi.
  5. Verification. Berdasarkan hasil pengolalahan informasi uang ada, pertanyaan, atau hipotesis terdahulu dicek, terbukti atau tidak
  6. Generalation.Tahap selanjutnya berdasarkan hasil vertifikasi tadi, siswa bwlajar menarik kesimpulan atau generalisasi tertentu.

Sistem pendekatan ini dikembangkan Bruner dari hasil belajar dengan cara ini lebih mudah dihafal dan diingat, serta mudah ditrasfer untuk memecahkan masalah.

Keunggukan dan strategi pembelajaran Inquiry adalah

  • Strategi pembelajaran Inquiry yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, efektif dan psikomotorik secara seimbanng, dan sehingga pembelajaran ini dianggaplah bermakna
  • Strategi pembelajaran Inquiry memberikan ruang siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka
  • SPI merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern, yang mengaggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman
  • SPI dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.

Kelemahan Strategi Pembelajaran Inquiry

  • Sulit mengenal kegiatan dan keberhasilan siswa
  • Sulit merencanakan pembelajaran karena terbentuk dengan kebiasaan siswa dalam mengajar
  • Kesulitan dalam mengimplementasikan hasil pembelajaran[6]
  1. b. Expository learning, model informasi

Dalam sistem ini, guru menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematis, dan lengkap sehingga anak didik hanya menyimak dan mencernanya saja secara tertib dan teratur. Secara garis besar, prosedur ini adalah:

  1. Preperasi. Guru menyiapkan bahan selengkapnya secara sistematis dan rapi
  2. Arsepsi. Guru bertanya atau memberikan uraian singkat  untuk mengarahkan perhatian anak didik kepada materi yang akan diajarkan
  3. Presentasi. Guru menyajikan bahan dengan cara memberikan ceramah atau menyuruh siswa membaca bahan yang telah disiapkan dari buku teks tertentu atau yag ditulis guru sendiri
  4. Resitasi. Guru bertanya dan anak didik menjawab sesuai dengan bahan yang dipelajari, atau anaka didik disuruh menyatakan kembali dengan kata-kata sendiri tentang pokok masalah-masalah yang telah dipelajari, baik yang dipelajari secara tulisan maupun lisan

Keuggulan strategi pembelajaran Ekspositori,

  • Lebih mudah mengontrol urutan dan keluasan materi pelajaran, sehingga dapat mengetahui sampai sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang disampaikan
  • SPE sangat efektif, bila materi pelajaran cukup luas sementara waktu terbatas
  • Melalui SPE selain siswa dapat mendengar suatu materi pelajaran , juga dapat melihat atau mengobservasi ( melalui demonstrasi )
  • SPE bisda digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar

Kelemahan strategi pembelajaran Ekspositori

  • SPE hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik
  • SPE tidak dapat melayani prbedaan setiap individu
  • Karena SPE memberikan materi melalui ceramah maka akan sulit mengembangkan kemempuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan internasional, serta kemampuan berpikir kritis
  • Keberhasilan SPE sangat tercapai kepada yang dimiliki guru
  • Karena gaya komunikasi SPE satu arah ( one- way communication ) mengakibatkan pengetahuan yang dimiliki siswa akan terbatas.[7]

Keunggulan dan kelemahan pendekatan “Ekspositori” pemdekatan ekspositori agar bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran, sehingga dapat mengetahui

  1. c. Mastery learning

Sistem ini dikembangkan sebagai reaksi terhadap sistem yang dikembangkan oleh Bruner yang dipandang kurang efisien. Karena takut-takut belajar yang lebih tinggi, peserta didik tidak harus mengalaminya sendiri. Peserta akan lebih mampu dan lebih efisien memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya

  • Strategi pembelajaran interaksi sosial

Didasarkan kepada dua asumsi pokok, yaitu:

  1. Masalah-masalah sosial diindentifikasikan dan dipecahkan atas dasar kesepakatan-kesepakatan yang diperoleh dari dalam dan dengan menggunakan proses-proses sosial
  2. Proses sosial yang demokratis perlu dikembangkan unuk melakukan perbaikan di masyarakat dalam arti seluas-luasnya secara “bilding” dan terus-menerus
  • Strategi pembelajaran tingkah laku

Bertolak dari tingkah laku behavioristik, strategi pembelajaran kelompok ini mementingkan penciptaan sistem lingkungan yang memungkunkan manipulasi penggunaan tingkah laku (reinforcement ) secara efektif sehingga terbebtuk tingkah laku yang dikehendaki. Istilah tehnik yang lain yang dipergunakan untuk proes ini adalah “shaping “

Tahap-tahap pengelolahan dan pelaksanaan proses belajar mngajar dapat diperinci sebagai berikut:

  1. 1.            Perencanaan
  2. 2.            Pengorganisasian
  3. 3.            Pengarahan
  4. 4.            Pengawasan


BAB II

KESIMPULAN

Strategi pembelajaran sangat penting untuk tercapainya peningkatan mutu pendidikan. Ada bermacam-macam jenis strategi pembelajaran seperti strategi pembelajaran inquiry, ekspository, dll. Namun tidak semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Setiap strategi memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Oleh kareana itu dalam memilih strategi guru harus mampu memilih strategi yang dianggap sesuai dengan keadaan. Untuk itu ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan seperti tujuan, aktivitas, individualitas, dan integritas. Sehingga dengan pemilihan strategi pembelajaran yang tepat diharapkan terwujudnya proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif.

DAFTAR PUSTAKA

  • Arikunto, Suharsimi, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta: 2008
  • Rusyan, Tabrani, Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, PT Remaja Rosda Karya, Bandung: 1994
  • Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standart Proses Pendidikan, Kencana, Jakarta: 2008
  • Siddik, Dja’far, Konsep Dasar Ilmu Pendidikan Islam, Citapustaka Media, Bandung: 2006
  • Sabri, Ahmad. Strategi belajar mengajar dan micro teaching. Jakarta: Micro Teaching. 2005.

[1]Siddik, Dja’far, Konsep Dasar Ilmu Pendidikan Islam,  Bandung: Cita Pustaka Media, 2006, hlm. 153

[2]Arikunto, Suharsimi, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan,Jakarta: Bumi Aksara, 2008, hlm. 3

[3] Op-cit, hlm 157-161

[4] Op-cit, hlm. 8-9

[5] Ibid, hlm 163

[6] Sandjaya, Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2008, hlm. 208.

[7] Ibid, hlm. 190-191