Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?”
Keturunan adalah generasi penerus yang dilahirkan oleh pendahulunya melalui cara pernikahan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Salah satu konsekuensi dan hikmah yang dapat diperoleh dari pernikahan itu adalah kemungkinan lahirnya keturuan. Orang tua bertanggung jawab melaksanakan hadanah agar anak menjadi orang yang beriman dan berakhlak mulia, serta patuh melaksanakan ajaran agama.
Pendidikan anak merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam kehidupan keluarga. Orangtua berkewajiban untuk mengarahkan anak-anak mereka menjadi orang yang beriman dan berakhlak mulia, serta patuh dalam melaksanakan ajaran agama dengan baik agar terhindar dari perbuatan dosa dan maksiat.
Hadanah merupakan suatu kewenangan untuk merawat dan mendidik orang yang belum mumayiz. Walaupun ulama fikih menetapkan bahwa kewenangan tersebut lebih tepat dimiliki kaum perempuan, namun hadhanah merupakan hak dan kewajiban bersama antara kedua orang tua dan anak.
Selanjutnya ulama fikih juga mengatakan bahwa apabila anak tersebut telah mencapai usia tertentu, maka pihak laki-laki dapat dianggap lebih sesuai dalam pemeliharaan anak.

HADANAH

Hadanah (Ar.: al-hadanah = di damping atau berada di bawah ketiak) adalah tugas dan tanggung jawab untuk memelihara, mengasuh, dan mendidik anak. Pemeliharaan anak tersebut meliputi pemberian makanan, pakaian, kesehatan, pendidikan, perlindungan dari segala macam bahaya, dan segala hal-hal yang diperlukan. Ulama fikih menetapkan behwa kewenangan seperti itu lebih tepat dimiliki kaum wanita, karena naluri mereka lebih sesuai untuk merawat dan mendidik anak, serta ksabaran mereka dalam menghadapi permasalahan kehidupan anak-anak lebih tinggi dibanding seorang laki-laki. Selanjutnya ulama fikih juga mengatakan apabila anak tersebut telah mencapai usia tertentu, maka pihak laki-laki dapat dianggap lebih sesuai dan lebih mampu untuk merawat, mendidik dan menghadapi berbagai persoalan anak tersebut sebagai pelindung.
Jumhur ulama mengatakan bahwa hak memelihara anak diserahkan kepada ibunya jika anak tersebut masih kecil, ketika terjadi perceraian. Ibunya lebih sayang, lebih sabar, lebih mengerti mendidik, dan lebih dekat dengan anak daripada sang bapak. Hal tersebut berpegang pada hadis Rasulullah SAW;
“barangsiapa memisahkan antara seorang ibu dan anaknya, maka Allah akan memisahkan antaranya dengan kekasih-kekasihnya pada hari kiamat” (HR. Ahmad, at-Tirmizi, dan Hakim dari Abi Ayub).
Kecuali bila ibunya murtad atau berakhlak tidak terpuji yang akan mengakibatkan sang anak terlantar, maka sang bapak lebih mampu mendidik anak. Apabila anak itu telah tamyiz (cukup umur untuk dapat memilih antara yang baik dan buruk), maka segolongan fukaha termasuk Imam Syafi’I menyuruh anak untuk memilih antara ibu atau bapak.
Pendidikan anak merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam kehidupan keluarga. Orangtua berkewajiban untuk mengarahkan anak-anak mereka menjadi orang yang beriman dan berakhlak mulia, serta patuh dalam melaksanakan ajaran agama dengan baik agar terhindar dari perbuatan dosa dan maksiat. Firman Allah mengingatkan;

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Hadis Rasulullah SAW juga mempertegas kewajiban orang tua dalam mendidik anak-anaknya sebagai berikut;
“ tiap-tiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (bersih). Orang tuanyalah yang menjadikan dia sebagai Yahudi, Nasranni, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Batas akhir pemeliharaan anak tersebut adalah hingga ia mencapai umur dewasa. Hukum islam tidak menentukan secara pasti batas umur dewasa tersebut. Ukuran dewasa bagi seseorang anak adalah tatkala ia mampu untuk hidup mandiri serta melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Kompilasi hukum islam yang berlaku di Indonesia pada pasal 98 menentukan batas usia dewasa bagi seorang anak adalah 21 tahun. Ketentuan itu berlaku, sepanjang anak tersebut tidak cacat fisik atau mental. Begitu pula anak yang pernah melangsungkan pernikahan, dipandang telah dewasa meskipun belum genap berumur 21 tahun. Karena itu anak yang belum berumur 21 tahun atau belum menikah, tetap berada dalam tanggung jawab orang tuanya.orang tua bertanggung jawab pula untuk mewakili anaknya yang belum dewasa mengenai segala perbuatan hukum. Jika orang tua tidak mampu melaksanakan tanggung jawab tersebut, maka mereka dapat menunjuk kerabat terdekat atau orang lain yang dapat dipercaya.[1]

Hukum Hadanah.
Ulama fikih sepakat menyatakan bahwa hukum merawat dan mendidik anak adalah wajib, karena apabila anak yang masih kecil, belum mumayiz, tidak dirawat dan dididik dengan baik, maka akan berakibat buruk pada diri mereka, bahkan bisa menjurus kepada kehilangan nyawa mereka. Oleh sebab itu, mereka wajib dipelihara, dirawat, dan dididik dengan baik.
Untuk memelihara, merawat, dan mendidik anak kecil diperlukan kesabaran, kebijaksanaan, pengertian, dan kasih sayang, sehingga seseorang tidak dibolehkan mengeluh dalam menghadapi berbagai persoalan; bahkan Rasulullah SAW sangat mengecam orang-orang yang merasa bosan dan kecewa dengan tingkah laku anak-anak mereka. Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas dan Abu Musa al-Asy’ari dikatakan: “bahwa Aus bin Ubadah al-Ansari mendatangi Nabi Muhammad SAW lalu ia berkata; “Ya Rasulullah, saya memiliki beberapa orang anak perempuan dan saya mendoakan agar maut menemui mereka.” Rasulullah SAW berkata; “Wahai Ibnu Sa’idah (panggilan bagi Aus) jangan kamu berdoa seperti itu, karena anak-anak itu membawa berkat, mereka akan membawa berbagai nikmat, mereka akan membantu apabila terjadi musibah, dan mereka merupakan obat di waktu sakit, dan rezeki mereka datang dari Allah.”” (HR. Muslim dan Abu Dawud).
Hak Hadanah
Ulama fikih berbeda pendapat dalam menentukan siapa yang memiliki hak hadanah tersebut, apakah hak ini milik pengasuh atau hak anak yang diasuh tersebut. Ulama Mazhab Hanafi dan Mazhab Maliki mengatakan bahwa mengasuh, merawat, dan mendidik anak merupakan hak pengasuh (ibu atau yang mewakilinya). Dengan alasan bahwa apabila pengasuh ini menggugurkan haknya, sekaplipun tanpa imbalan, boleh ia lakukan dan hak itu gugur. Jika hadanah ini hak anak, maka menurut mereka, hak itu tidak dapat ia gugurkan.
Akan tetapi, jumhur ulama berpendirian bahwa hadanah itu menjadi hak bersama, antara kedua orang tua dan anak. Apabila terjadi pertentangan antara ketiga orang tua ini, maka yang diprioritaskan adalah hak anak yang diasuh. Akibat hukum dari perbedaan pendapat tentang hak hadanah ini adalah sebagai berikut:
a) Apabila kedua ibu bapak enggan untuk mengasuh anaknya, maka mereka bisa dipaksa, selama tidak ada yang mewakili mereka mengasuh anak terseut. Hal ini disepakati seluruh ulama.
b) Apabila ada wanita lain yang berhak mengasuh anak tersebut, seperti nenek dan bibinya, maka ibu tidak bolah dipaksa. Hal ini juga disepakati oleh seluruh ulama, karena seseorang tidak boleh dipaksa untuk mempergunakan haknya.
c) Menurut ulama Mazhab Hanafi apabila istri menuntut khuluk pada suaminya dengan syarat anak itu dipelihara suaminya, maka khuluknya sah, tetapi syaratnya batal, karena pengasuhan anak merupakan hak ibu. Jumhur ulama tidak sependapat dengan ulama Mazhab Hanafi, karena menurut mereka hak pengasuhan anak adalah hak berserikat yang tidak bias digugurkan. Apabila terjadi perpisahan antara suami-istri itu, boleh saja anak berada di bawah asuhan ibu, tetapi biaya pengasuhan harus ditanggung ayah. Menurut mereka, dalam kasus seperti ini, anak lebih berhak tinggal pada ibunya sampai ia cerdas dan bisa memilih apakah akan tinggal dengan ayah atau ibunya.
d) Ulama fikih juga sepakat menyatakan bahwa ayah tidak bias mengambil anak dari ibunya apabila mereka bercerai, kecuali ada alasan syarak yang membolehkannya.

Urutan wanita yang berhak hadanah
Ulama memberikan urutan hak mengasuh anak bagi para wanita, sesuai dengan kemaslahatan anak tersebut. Menurut mereka, kaum wanita lebih sesuai sebagai pengasuh anak, karena kasih sayang, naluri keibuan, dan kesabaran mereka dalam mengasuh dan mendidik anak lebih tinggi dibandingkan kaum pria. Oleh sebab itu, dalam membicarakan urutan hak pengasuhan anak, ulama fikih mendahulukan kaum perempuan daripada kaum lelaki. Adakalanya pengasuhan anak itu pada usia tertentu lebih sesuai diasuh oleh kaum perempuan, adakalanya harus diasuh, dirawat,dan dididik bersama, dan adakalanya pada usia tertentu pihak laki-laki yang lebih mampu mengasuh mereka. Apabila para wanita tidak ada, maka hak pengasuhan berpindah kepada kaum pria.
Menurut ulama Mazhab Hanafi dan Syafi’I , setelah ibu, nenek (ibu dari ibu) lebih berhak mengasuh anak, kemudian ibu dari ayah, dan seterusnya ke atas. Setelah itu hak pengasuhan pindah secara berurut kepada saudara perempuan anak itu, saudara-saudara ibu yang perempuan, anak-anak perempuan saudara perempuan ibu, anak perempuan dari saudara ibu yang lelaki, lalu saudara perempuan ayah, kemudian para asabat sesuai dengan urutan hak warisnya.[2]
Menurut ulama Mazhab Maliki, setelah nenek (ibu dari ibu), yang berhak mengasuh anak itu secara berurut adalah saudara perempuan ibunya, ibu dari ayah, sampai ke atas, saudara perempuan anak itu, saudara perempuan ayah, anak perempuan saudara lelaki anak itu, orang yang diberi wasiat oleh ayah dan / atau ibunya, kemudian para asabat yang paling baik[3].
Menurut ulama Mazhab Hanbali, hak pengasuhan anak setelah ibu berpindah secara berurut kepada ibu dari ibu, ibu dari ayah, nenek ayah dan ibu sampai ke atas, saudara perempuan kandung, saudara perempuan seibu, saudara perempuan seayah, saudara perempuan yang seibu dengan ibu,saudara perempuan yang seayah dengan ibu, saudara perempuan dari ayah, saudara perempuan ibu dari ibu, saudara perempuan ayah dari ibu, anak perempuan saudara laki-laki anak itu, anak perempuan paman anak itu, kemudian berpindah kepada asabat secara berurut.[4]
Syarat pengasuh anak
Ulama fikih mengemukakan beberapa syarat yang terkait dengan pengasuhan anak yang harus dimiliki oleh pengasuhnya. Syarat-syarat itu dibagi menjadi tiga kelompok
1) Syarat umum untuk pengasuh wanita dan pria adalah
a) Balig
b) Berakal.
c) Memiliki kemampuan dalam mengasuh, merawat dan mendidik anak
d) Dapat dipercaya memegang amanah dan berakhlak baik
e) Seorang muslimah atau muslim.

2) Syarat khusus untuk pengasuh wanita, menurut para ahli fikih ialah sebagai berikut:
a) Tidak mempunyai suami setelah dicerai suaminya.
b) (Sebaiknya) Merupakan mahram anak itu
c) Tidak mengasuh anak tersebut dengan sikap yang tidak baik, seperti marah dan membenci anak itu.
d) Ulama Mazhab Syafi’I dan Mazhab Hanafi menambahkan syarat, apabiila anak itu masih dalam usia menyusu pada pengasuhnya, tetapi ternyata air susunya tidak ada atau ia enggan untuk menyusukan anak itu, maka ia tidak berhak menjadi pengasuh anak itu.
3) Syarat khusus untuk pengasuh pria
a) Pengasuh laki-laki itu harus didampingi wanita lain yang dapat membantunya mengasuh anak itu
b) Apabila anak itu perempuan, disyaratkan berusia di bawah tujuh tahun, sehingga tidak menimbulkan fitnah.

Imbalan bagi pengasuh
Ulama hanafi mengatakan bahwa apabila yang mengasuh anak itu adalah ibu anak itu sendiri, tidak berhak mendapat imbalan. Alas an mereka adalah wanita seperti ini selama pernikahan dan selama masa iddah itu berhak mendapatkan nafkah, dan nafkah itu cukup, dan nafkah itu cukup untuk biaya mengasuh anak tersebut. Akan tetapi, apabila istri telah dicerai dan masa iddahya telah habis, maka ia berhak mendapatkan imbalan dari pekerjaan mengasuh yang dilakukannya.
Menurut jumhur ulama, pengasuh tidak berhak mendapatkan imbalan. Alasan mereka, ibu itu telah mendapat nafkah dari suaminya. Akan tetapi, apabila anak yang diasuh itu memerlukan biaya, seperti makanan, pakaian, dan biaya mencuci pakaiannya, maka pengasuh anak itu berhak mendapatkan imbalan.
Adapun yang bertanggung jawab dalam menyediakan biaya yang diperlukan anak selama dalam pengasuhan, menurut kesepakatan ahli fikih, adalah anak itu sendiri jika ia memiliki harta. Jika anak itu tidak memiliki harta, maka biaya yang diperlukan untuk mengasuh menjadi tanggung jawab ayahnya.
Masa pengasuhan
Ulama fikih sepakat menyatakan bahwa pengasuhan itu dimulai semenjak anak lahir sampai ia mumayiz. Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang kapan berakhirnya hadanah tersebut. Ulama Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hak pengasuhan anak laki-laki akan berakhir apabila anak itu sudah mampu berdiri sendiri dalam mengurus keperluannya, seperti makan, minum, berpakaian, dan membersihkan diri. Anak seperti ini, menurut mereka, biasanya telah berumur 7 tahun. Alasan mereka adalah sabda Rasulullah SAW: “Suruhlah anakmu shalat apabila mereka telah berusia tujuh tahun” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud). Adapun untuk anak perempuan, hak pengasuhannya akan berakhir apabila ia sudah baligh yang ditandai dengan haid.
Menurut Mazhab Maliki, hak pengasuhan anak laki-laki berakhir apabila anak itu sudah baligh yang ditandai dengan keluarnya mani pertama dalam mimpi. Adapun untuk anak perempuan, hak pengasuhannya akan berakhir apabila anak perempuan itu memasuki jenjang pernikahan.
Menurut Mazhab Syaafi’I dan Mazhab Hanbali, hak pengasuhan anak baik laki-laki maupun perempuan akan berakhir apabila anak-anak itu telah mumayiz atau berusia tujuh atau delapan tahun. Setelah itu anak-anak tersebut berhak memilih apakah akan tinggal dengan ibu atau ayahnya, jika keduanya telah bercerai. Akan tetapi, ulama Mazhab Hanbali mengatakan, apabila anak itu perempuan dan mencapai umur tujuh tahun, di mana hak pengasuhannya telah berakhir, maka hak pengasuhannya pindah kepada ayah.
Adapun hak pengasuhan terhadap anak yang dungu atau gila, menurut kesepakatan ulama fikih akan berakhir apabila penyakit dungu atau gilanya itu sembuh.

DAFTAR PUSTAKA

o Dahlan, Abdul Aziz. Ensiklopedi Hukum Islam jilid 2. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve. 1996
o Taufik Abdullah dkk.. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam jilid 3. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve. 2002.
o Rasjid, Sulaiman. Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo. 1994
o Wahyu, Sigit. Hadanah. @sriNet:sigitwahyu.net/ensiklopedi/hadanah/. 21 Desember 2008

[1] Taufik Abdullah dkk., Ensiklopedi Tematis Dunia Islam jilid 3, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002, hal. 89.

[2] Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam jilid 2, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996, hal. 416
[3]ibid .
[4] ibid 

A.  Pendahuluan

Dalam kajian filsafat pendidikan Islam, ada beberapa tokoh muslim yang sangat berjasa dalam pengembangan/pembaharuan pemikiran pendidikan Islam, khususnya dari para filosof Muslim, seperti al-Farabi, Al-Ghazali, Ibn Khaldun, Ikhwan al-Shafa, dan lain sebagainya. Ikhwan al-Shafa adalah salah satu organisasi yang didirikan oleh sekelompok masyarakat yang terdiri dari para filosof. Sebagai perkumpulan atau organisasi yang bersifat rahasia, Ikhwan al-Shafa menfokuskan perhatiannya pada bidang dakwah dan pendidikan. Organisasi ini juga mengajarkan tentang dasar-dasar Islam yang didasarkan oleh persaudaraan Islamiyah (ukhuwah Islamiyah), yaitu sikap yang memandang iman seseorang muslim tidak akan sempurna kecuali ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.[1] Hal ini berdasarkan sebuah hadis: (لاَ يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَى يُحِبَّ أَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ).

Ikhwan al-Shafa muncul setelah wafatnya al-Farabi. Kelompok ini telah berhasil menghimpun pemikirannya dalam sebuah ensiklopedi tentang ilmu pengetahuan dan filsafat yang dikenal dengan “Rasail Ikhwan al-Shafa”. Identitas pemuka mereka tidak terang karena mereka bersama anggota mereka memang merahasiakan diri.[2] Sebagai kelompok rahasia, Ikhwan al-Shafa dalam merekut anggota baru dilakukan lewat hubungan perorangan dan dilakukan oleh orang-orang yang terpercaya.[3]

Dalam makalah ini akan sedikit menyibak tirai rahasia yang disimpan Ikhwan al-Shafa sebagai salah satu organisasi militan yang lebih suka merahasiakan dirinya. Melalui karya monumental, Rasail Ikhwan al-Shafa, kita mencoba mencari jejak-jejak pemikiran Ikhwan al-Shafa yang tertinggal untuk dicari hikmah dan pelajaran.

B.  Sejarah Ikhwan al-Shafa dan Risalahnya

Dalam Wikipedia disebutkan, Ikhwan as-Shafa (اخوان الصفا) berarti (Persaudaraan Kemurnian) adalah organisasi rahasia yang aneh dan misterius[4] yang terdiri dari para filsuf Arab Muslim, yang berpusat di Basrah, Irak-yang saat itu merupakan ibukota Kekhalifahan Abassiyah-di sekitar abad ke-10 Masehi. Kelompok yang lahir di Bashrah kira-kira tahun 373H/983M ini, terkenal dengan Risalahnya, yang memuat doktrin-doktrin spiritual dan sistem filsafat mereka. Nama lengkap kelompok ini adalah Ikhwan al-Shafa wa Khullan al-Wafa wa Ahl al-Hamd wa Abna’ al-Majd. Sebuah nama yang diusulkan untuk mereka sandang sebagaimana termaktub dalam bab ”Merpati Berkalung” dan Kalilah wa Dimnah, sebuah buku yang sangat mereka hormati. Ikhwan al-Shafa berhasil merahasiakan nama mereka secara seksama. Namun Abu Hayyan al-Tauhidi menyebutkan, sekitar tahun 373H/983M lima orang dari kelompok Ikhwan al-Shafa seperti, Abu Sulaiman Muhammad bin Ma’syar al-Busti, yang dikenal dengan al-Muqaddisi, Abu al-Hasan Ali bin Harun al-Zanjani, Abu Ahmad Muhammad al-Mihrajani, al-Aufi, dan Zaid bin Rifa’ah yang terkenal itu.[5]

Karya monumental Ikhwan al-Shafa adalah ensiklopedia Rasail Ikhwan al-Shafa. Rasail Ikhwan Ash-Shofa wa Khilan al-Wafa didirikan pada abad ke 4 H yang dikarang oleh 10 orang yang mengaku dirinya sebagai pakar tapi mereka merahasiakan identitasnya.[6] Rasail ini terdiri 51 risalah (Epistle) yang dilengkapi dengan ikhtisar di bagian akhirnya. Diduga kuat, ikhtisar ini digarap oleh Al-Majriti (w.1008). Konon, Al-Majriti pula yang pertama-tama membawa ajaran Ikhwan al-Shafa di daratan Spanyol. Ensiklopedi ini secara garis besar, dapat dibagi menjadi empat kelompok:

Kelompok pertama, berisi empat belas risalah ”matematis” tentang angka. Oleh kalangan Ikhwan al-Shafa, angka dianggap alat penting untuk mengkaji filsafat ”sebab ilmu angka akar semua sains, saripati kebijaksanaan, sumber kognisi, dan unsur pembentuk makna. Risalah dalam kelompok ini memuat bagian (1) pendahuluan, disusul dengan (2) geometri, (3) astronomi, (4) musik, (5) geografi, (6) ”proporsi-proporsi harmonik”, (7 dan 8) tentang seni-seni teoritis dan praktis, dan (9) etika.

Kelompok kedua, terdiri atas tujuh belas risalah yang membahas ”persoalan fisik-materiil”. Secara kasar, semua risalah tersebut berkaitan dengan karya-karya fisika Aristoteles. Sedikit tambahan ihwal psikologi, epistemologi, dan linguistik yang tidak terdapat dalam korpus Aristotelian, juga masuk dalam kelompok ini.

Kelompok ketiga, terdiri atas sepuluh risalah ”psikologis-rasional” yang membahas prinsip-prinsip intelektual, intelek itu sendiri, hal-hal kawruhan (intelligibles), hakikat cinta erotik (’isyq), hari kebangkitan, dan sebagainya.

Kelompok keempat, terdiri atas empat belas risalah yang membahas cara mengenal Tuhan, akidah dan pandangan hidup Ikhwan al-Shafa, sifat hukum Ilahi, kenabian, tindakan-tindakan makhluk halus, jin dan malaikat, rezim politik, dan terakhir hakikat teluh, azimat, dan aji-aji.[7]

Dari isi ensiklopedi tersebut kita dapat menafsirkan bahwa Ikhwan al-Shafa mencoba melakukan penjelasan-penjelasan yang terkait dengan agama dan ilmu pengetahuan (filsafat dan sains). Sedangkan karya yang erat hubungannya dengan Rasail adalah al-Risalat al-Jami’ah (Risalah Komprehensif) yang merupakan sebuah summarium (Ikhtisar, Ringkasan) dan summa dari karya aslinya. Selanjutnya, Jami’ah pun diikhtisarkan dalam Risalat al-Jami’ah al-Jami’ah au al-Zubdah min Rasail Ikhwan al-Shafa (Kondensasi dari Risalah Komprehensip atau Krim dari Rasail Ikhwan al-Shafa), yang juga dinamai al-Risalat al-Jami’ah. [8]

C.  Pemikiran Ikhwan al-Shafa terhadap Pendidikan, Agama, dan Filsafat.

1.   Klasifikasi Ilmu

Ikhwan al-Shafa membagi cabang pengetahuan menjadi tiga kelas utama, yaitu: matematika, fisika, dan metafisika. Dalam Rasa’il matematika meliputi: teori tentang bilangan, geometri, astronomi, geografi, musik, seni teoritis dan praktis, etika, dan logika. Fisika meliputi: materi, bentuk, gerak, waktu, ruang, langit, generasi, kehancuran, mineral, esensi alam, tumbuhan, hewan, tubuh manusia, indera, kehidupan dan kematian, mikrikosmos, suka, duka, dan bahasa. Metafisika dibagi menjadi psiko-rasionalisme dan teologi. Psiko-rasionalisme. Subdivisi pertama (psiko-rasionalisme) meliputi fisika, rasionalistika, wujud, mikrokosmos, jiwa, tahun-tahun raya, cinta, kebangkitan kembali dan kausalitas. Teologi meliputi keyakinan atau akidah Ikhwan al-Shafa, persahabatan, keimanan, hukum Allah, kenabian, dakwah, ruhani, tatanegara, struktur alam, dan magis.[9]

2.   Konsep Pendidikan Ikhwan al-Shafa

a.   Cara Mendapatkan Ilmu

Menurut Ikhwan al-Shafa, pengetahuan umum dapat diperoleh dengan tiga cara, yaitu:

1)      Dengan pancaindera. Pancaindera hanya dapat memperoleh pengetahuan tentang perubahan-perubahan yang mudah ditangkap oleh indera, dan yang kita ketahui hanyalah perubahan-perubahan ruang dan waktu.

2)      Dengan akal prima atau berpikir murni. Akal murni juga harus dibantu oleh indera.

3)      Melalui inisiasi. Cara ini berkaitan erat dengan doktrin esoteris Ikhwan al-Shafa. Dengan cara ini seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan secara langsung dari guru, yakni guru dalam pengertian seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Guru mendapatkan ilmunya dari Imam (pemimpin agama) dan Imam dari Imam lain, dan para Imam mendapatnya dari Nabi, dan Nabi dari Allah, sumber ilmu paling akhir.[10] Konsep Imam ini disinyalir bahwa Ikhwan al-Shafa mengabdopsi konsep imam dalam pemahaman Syi’ah, yang lebih menekankan pada sikap eksklusif dalam memilih imam dari kelompoknya sendiri. [11]

Dalam hal anak didik, Ikhwan al-Shafa memandang bahwa perumpamaan orang yang belum dididik ilmu akidah ibarat kertas yang masih putih bersih, belum ternoda apapun juga. Apabila kertas ini ditulis sesuatu, maka kertas tersebut telah memiliki bekas yang tidak mudah dihilangkan.[12] Pandangan ini lebih dekat dengan teori Tabula Rasa John Locke (empirisme). Aliran ini menilai bahwa awal pengetahuan terjadi karena pancaindera berinteraksi dengan alam nyata. Sebelum berinteraksi dengan alam nyata itu di dalam akal tidak terdapat pengetahuan apapun.[13]

Ikhwan al-Shafa berpendapat bahwa ketika lahir, jiwa manusia tidak memiliki pengetahuan sedikitpun. Proses memperoleh pengetahuan digambarkan Ikhwan secara dramatis dilakukan melalui pelimpahan (al-faidh). Proses pelimpahan tersebut bermula dari jiwa universal (al-nafs al-kulliyah) kepada jiwa manusia, setelah terlebih dahulu melalui proses emanasi. Pada mulanya, jiwa manusia kosong. Setelah indera berfungsi, secara berproses manusia mulai menerima rangsangan dari alam sekitarnya. Semua rangsangan inderawi ini melimpah ke dalam jiwa. Proses ini pertama kali memasuki daya pikir (al-quwwah al-mufakkirat), kemudian diolah untuk selanjutnya disimpan ke dalam re-koleksi atau daya simpan (al-quwwah al-hafizhat) sehingga akhirnya sampai pada daya penuturan (al-quwwah al-nathiqat) untuk kemudian siap direproduksi.[14]

Pandangan Ikhwan di atas berbeda dengan konsep fitrah dalam pendidikan Islam, bahwa manusia sejak lahir telah membawa potensi dasar (kemampuan dasar untuk beragama) yang diberikan Allah. Jadi, sejak lahir manusia sudah punya modal ”fitrah” tidak layaknya kertas putih (kosong).[15] Modal itulah yang nantinya akan dikembangkan oleh orang tua, masyarakat, sekolah maupun lingkungan cyber universe yang diciptakan oleh kemajuan teknologi informasi (internet).

Ikhwan al-Shafa juga berpendapat bahwa semua ilmu harus diusahakan (muktasabah), bukan pemberian tanpa usaha. Ilmu yang demikian didapat dengan panca indera. Ikhwan al-Shafa menolak pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah markuzah (harta tersembunyi) sebagaimana pendapat Plato yang beraliran idealisme. Plato memandang bahwa manusia memiliki potensi, dengan potensi ini ia belajar, yang dengannya apa yang terdapat dalam akal itu keluar menjadi pengetahuan. Plato mengatakan bahwa jiwa manusia hidup bersama alam ide (Tuhan) yang dapat mengetahui segala sesuatu yang ada. Ketika jiwa itu menyatu dengan jasad, maka jiwa itu terpenjara, dan tertutuplah pengetahuan, dan ia tidak mengetahui segala sesuatu ketika ia berada di alam ide, sebelum bertemu dengan jasad. Karena itu untuk mendapatkan ilmu pengetahuan seseorang harus berhubungan dengan alam ide.[16]

Dalam mempelajari ilmu pengetahuan, Ikhwan al-Shafa mencoba meng-integrasikan antara ilmu agama dan umum. Mereka mengatakan bahwa kebutuhan jiwa manusia terhadap ilmu pengetahuan tidak memiliki keterbatasan pada ilmu agama (naqliyah) semata. Manusia juga memerlukan ilmu umum (aqliyah). Dalam hal ini, ilmu agama tidak bisa berdiri sendiri melainkan perlu bekerja sama dengan ilmu-ilmu aqliyah, terutama ilmu-ilmu kealaman dan filsafat. Dalam hal ini Ikhwan al-Shafa mengklasifikasikan ilmu pengetahuan aqliyah kepada 3 (tiga) kategori, yaitu; matematika, fisika, dan metafisika. Ketiga klasifikasi tersebut berada pada kedudukan yang sama, yaitu sama-sama bertujuan menghantarkan peserta didik mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Menurut Ikhwan al-Shafa, ketiga jenis pengetahuan tersebut dapat diperoleh melalui pancaindera, akal, dan inisiasi. Meskipun ia lebih menekankan pada kekuatan akal dalam proses pencarian ilmu, akan tetapi menurutnya pancaindera dan akal memiliki keterbatasan dan tidak mungkin sampai pada esensi Tuhan. Oleh karena ini diperlukan pendekatan inisiasi, yaitu bimbingan atau otoritas ajaran agama.[17]

b.   Sosok Ideal Guru

Bagi Ikhwan, sosok guru dikenal dengan ashhab alnamus. Mereka itu adalah mu’allim, ustadz dan mu’addib. Guru ashhab alnamus adalah malaikat, dan guru malaikat adalah jiwa yang universal, dan guru jiwa universal adalah akal aktual; dan akhirnya Allah-lah sebagai guru dari segala sesuatu.

Guru, ustadz, atau mu’addib dalam hal ini berada pada posisi ketiga. Urutan ini selanjutnya digambarkan sebagai berikut:

1).  Al-Abrar dan al-Ruhama, yaitu orang yang memiliki syarat kebersihan dalam penampilan batinnya dan berada pada usia kira-kira 25 tahun.

2).  Al-Ru’asa dan al-Malik, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan yang usianya kira-kira 30 tahun, dan disyaratkan memelihara persaudaraan dan bersikap dermawan.

3).  Muluk dan Sulthan, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan dan telah berusia 40 tahun.

4).  Tingkatan yang mengajak manusia untuk sampai pada tingkatannya masing-masing, yaitu berserah dan menerima pembiasaan, menyaksikan kebenaran yang nyata, kekuatan ini terjadi setelah berusia 50 tahun.

3.   Pandangan Ikhwan al-Shafa Tentang Agama

Ikhwan al-Shafa adalah Muslim. Namun mereka memiliki interpretasi tersendiri mengenai agama pada umumnya dan tentang Islam pada khususnya. Corak Syi’ah yang amat tampak dalam kegiatan misioner memang dramatis sebab ini sangat membantu mereka menyentuh emosi massa. Secara historis, sebetulnya Ikhwan al-Shafa tidak termasuk ke dalam sekte manapun. Sebetulnya mereka hanya berupaya dengan dibantu Islam dan filsafat Yunani, untuk menanamkan doktrin spiritual yang dapat menggantikan agama-agama historis dan yang, pada waktu yang sama, dapat diterima oleh semua orang serta tidak menyinggung perasaan siapa pun.[18]

Ikhwan al-Shafa memandang agama sebagai sebuah din, yaitu kebiasaan atau kepatuhan kepada seorang pemimpin yang telah diakui. Agama sangat diperlukan sebagai sanksi sosial dalam mengatur massa, dalam mensucikan jiwa, dan dikarenakan semua manusia sebelum lahirnya pun sudah bertabiat untuk beragama dan berbuat kebajikan. Dalam pengertian ini agama adalah satu untuk semua orang dan segala bangsa.

Hukum (Arab: Syari’ah atau namus, dari kata Yunani: nomos, hukum) oleh Ikhwan al-Shafa adalah apa yang kita maksud dengan agama sekarang (dalam istilah kita agama sama dengan hukum dalam istilah Ikhwan). Hukum-hukum itu beraneka ragam disesuaikan dengan beragamnya komunitas, kelompok, dan individu). Hukum ini diajarkan oleh orang-orang bijak yang ada di setiap bangsa demi kemaslahatan bangsa-bangsa yang bersangkutan. Atas dasar ini, Ikhwan al-Shafa menyatakan bahwa segala tema metafisika di dalam kitab-kitab suci misalnya mengenai penciptaan, mengenai Adam, Setan, pohon pengetahuan, kebangkitan kembali, Hari Perhitungan, neraka, dan surga harus dianggap sebagai simbol-simbol dan harus dipahami secara alegoris. Hanya orang-orang awam, yang tidak dapat berpikir mandiri secara memadai, yang memahami tema-tema ini secara harfiah. Tema-tema yang agak ringan, seperti Dia (Allah) menurunkan hujan dari langit (al-Hajj [22]: 63), juga harus dipahami secara simbolik: air dalam konteks ini adalah Al-Qur’an.[19]

Penafsiran Ikhwan al-Shafa terhadap teks Al-Qur’an tersebut lebih bersifat esotoris (secara batin)[20], dalam artian pemaknaan Al-Qur’an dengan simbol-simbol. Karena sifat penafsiran Ikhwan al-Shafa yang esotoris ini, mereka dianggap sebagai kelompok aliran kebatinan. Sebagaimana ditulis dalam www.samuderailmufortuna.blogspot.com :

Rasail adalah upaya pembentukan sistem agama baru yang menggeser posisi syariat Islam yang telah menjadi “barang antik”. Usaha ini gagal dan menuai banyak kritikan dari ulama-ulama umat yang menjelaskan kesesatan dan kekeliruan mazhab ini. Secara implisit, Rasail mengandung keyakinan-keyakinan filosofis para kaum Bathiniyyah, para filosof, dan kaum Nasionalis, diantaranya:

a.   Pengingkaran kebangkitan manusia dengan jasad-jasadnya di akhirat.

b. Perbedaan interpretasi surga dan neraka dari pendapat umum yang mutawatir.

c.   Bantahan implikasi setan seperti yang dipahami umat Islam, menurut mereka setan itu konotasi makhluk-makhluk jahat yang menerawang di orbit bulan dan kawan-kawannya berupa makhluk-makhluk yang tidak diketahui bentuknya di kehidupan dunia.

d.   Interpretasi makna kafir dan azab secara maknawi.

e. Keyakinan bahwa derajat kenabian bisa dicapai dengan latihan dan kesucian hati.

f.    Statemen berbunyi siapa yang telah mencapai alam batin maka berarti dia sudah terbebas dari praktek ibadah/syariat.

g.   Kecondongan pada keyakinan Syi’ah seperti kemaksuman Imam, taqiyah (berbohong demi kebenaran), mendirikan negara dari ahli bait (keturunan Nabi).

h.   Seruan terhadap pluralisme agama[21] serta pelarangan fanatisme terhadap agama tertentu. Pendapat seperti ini banyak diilhami dari utopia peninggalan-peninggalan para dukun dan orang-orang Yunani. Sekelompok analisis dan orientalis lain lebih condong berpendapat bahwa Rasail ini diadopsi dari Ismailiyyah Bathiniyyah.[22]

Dari pendapat-pendapat di atas, semakin nampak bahwa penafsiran agama yang dilakukan oleh Ikhwan lebih menekankan pada makna esotoris/batiniyah daripada lahiriyah. Bagi mereka, hanya orang-orang awwam yang tidak bisa berpikir mandiri. Penafsiran esotoris ini lebih banyak dipengaruhi oleh paham Syiah.[23]

4.   Pandangan Ikhwan al-Shafa tentang Filsafat

Bagi golongan Ikhwan al-Shafa, filsafat itu bertingkat-tingkat. Pertama-tama cinta kepada ilmu; kemudian mengetahui hakikat wujud-wujud menurut kesanggupan manusia, dan yang terakhir ialah berkata dan berbuat sesuai dengan ilmu. Mengenai lapangan filsafat, maka dikatakannya ada empat, yaitu matematika, logika, fisika, dan ilmu ketuhanan. Ilmu ketuhanan mempunyai bagian-bagian, yaitu:

  1. mengetahui Tuhan;
  2. ilmu kerohanian, yaitu malaikat-malaikat Tuhan;
  3. ilmu kejiwaan, yaitu mengetahui roh-roh dan jiwa-jiwa, yang ada pada benda-benda langit dan benda-benda alam;
  4. ilmu politik yang meliputi politik kenabian, politik pemerintahan, politik umum (politik kekotaan), politik khusus (politik rumah tangga), politik pribadi (akhlak);
  5. ilmu keakhiratan, yaitu mengetahui hakikat kehidupan di hari kemudian.[24]

Filsafat, kebijaksanaan atau kebijakan filosofis, menurut Ikhwan, adalah berperilaku seperti Tuhan (Godlike) sedapat mungkin. Definisi filsafat secara lebih terincinya, ”cinta kepada ilmu pengetahuan disamping pengetahuan mengenai esensi segala wujud, yang diperoleh sedapat mungkin, ditambah dengan keyakinan dan berperilaku yang selaras dengan keyakinan itu.[25]

Dalam memandang antara filsafat dan agama, Ikhwan al-Shafa yakin bahwa tak ada pertentangan serius antara filsafat dan agama. Sebab, sama-sama bertujuan ”meniru Tuhan sesuai dengan kemampuan manusia”. Peniruan ini, menurut Ikhwan al-Shafa, bisa dicapai lewat pengetahuan teoritis atau amal kebajikan yang menyucikan individu bersangkutan. Perbedaan antara filsafat dan agama berada hanya pada tataran yang subsider, yakni bersangkutan bahasa khusus yang dipakai oleh keduannya.

Bagi Ikhwan al-Shafa, nilai utama filsafat terletak pada upayanya mengungkapkan pengertian tersembunyi (batin) dari wahyu. Filsafat juga mengajarkan agar manusia tidak berhenti pada makna eksternal (zhahir) wahyu secara vulgar dan profligate. Bahkan, filsafat mengajarkan bahwa ”hakikat kekufuran (kufr), kekeliruan, kebodohan, dan kebutaan” ialah bersikap puas terhadap tafsiran-tafsiran eksternal yang bertumpu pada kesenagan-kesenangan ragawi dan imbalan-imbalan kasatmata. Bagi seorang bijak bestari, semua tafsiran itu justru mengisyaratkan kebenaran-kebenaran spiritual. Dengan demikian, neraka adalah alam fana yang terletak di bawah bulan, sedangkan surga adalah ”tempat menetapnya jiwa dan alam raya”. [26]

D.  Kesimpulan

Ikhwan al-Shafa merupakan organisasi Islam militan yang telah berhasil menghimpun pemikiran-pemikiran mereka dalam sebuah ensiklopedi, Rasail Ikhwan al-Shafa. Melalui karya ini kita dapat memperoleh jejak-jejak ajaran mereka, baik tentang ilmu pengetahuan, filsafat, dan agama. Terlepas dari sisi positif dan negatif, Ikhwan al-Shafa telah menjadi bagian kajian filsafat pendidikan Islam, Filsafat Islam, bahkan Tafsir Al-Qur’an Esotoris. Inilah yang dapat kita urai, dan masih banyak yang belum terurai. Wallahu A’lam.

Daftar Pustaka

Al-Ahwani, Ahmad Fuad, Tarbiyah fi al-Islam, (Mesir: Dar al-Ma’arif, tt)

Dahlan, Abdul Aziz, Pemikiran Falsafi dalam Islam (Jakarta: Djambatan 2003)

Hanafi, Ahmad, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996)

Farrukh, Omar A. dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2004)

Fakhry, Majid, Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis, (terj.) oleh Zaimul Am, (Bandung: Mizan, 2002)

Iman, Muis Sad, Pendidikan Partisipatif, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004)

Langgulung, Hasan, Pendidikan dan Peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1985), hal. 215

Nata, Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam 1, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997).

Nizar, Samsul, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002)

Qadir, C.A, Filsafat Pendidikan Islam, Terj. Hasan Basari, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1991)

www.ikaari.multiply.com

www.telagahikmah.org.

www.telagahikmah.org.

www.mindarakyat2.tripod.com.

www.Samuderailmufortuna.blogspot.com.

http://www.wikipedia.org.


[1] Baca Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hal. 181.

 

[2] www.ikaari.multiply.com. Diunduh pada hari Minggu, 08 Maret 2009, jam 14.45 wib. Lihat Abdul Aziz Dahlan, Pemikiran Falsafi dalam Islam (Jakarta: Djambatan 2003) hal. 84

[3] Rasail Ikhwan al-Shafa, hal. 114 atau Omar A. Farrukh dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2004), hal. 183

[4]Having been hidden within the cloak of secrecy from its very inception, the Rasa’il have provided many points of contention and have been a constant source of dispute among both Muslim and Western scholars. The identification of the authors, or possibly one author, the place and time of writing and propagation of their works, the nature of the secret brotherhood, the outer manifestation of which comprises the Rasa’il – these and many secondary questions have remained without answer.” pg 25, Nasr (1964). They are generally considered a secret society because of their closed & private meetings every 12 days, as mentioned in the Rasa’il. (www.wikipedia.org). Diunduh pada hari Minggu, 08 Maret 2009, jam. 14.58 wib.

[5] Omar A. Farrukh dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam, hal. 181

[6] www.Samuderailmufortuna.blogspot.com.

[7] Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis, (terj.) oleh Zaimul Am, (Bandung: Mizan, 2002), hal. 64.

[8] Omar A. Farrukh dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam, hal. 182

[9] Omar A. Farrukh dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam, hal. 185

[10] Ibid, hal. 185-186.

[11]Konsep Imamiyah (dalam Syiah) gelar Khalifah (Ketua Negara) diubah menjadi Imam. Imam hanya boleh dilantik oleh Rasulullah s.aw. dan kaum Muslimin tidak berhak memilih Khalifah atau Imam. Rasulullah s.a.w. telah mewasiatkan Sayidina Ali untuk mengantinya sebagai Imam setelah Rasulullah wafat. Sebagai waris Nabi, Sayidina Ali terus menerima wahyu dari Allah swt. Sayidina Ali pula tidak mati dan seperti Nabi Isa s.a.w. beliau di bawa kelangit. Yang mati adalah gantinya. Seperti Nabi Isa a.s. juga, Sayidina Ali akan diutuskan lagi kepada manusia sebagai Imam Mahdi untuk menghapuskan kezaliman dan kesesatan manusia. Sementara menunggu Sayidina Ali muncul kembali di dunia, roh beliau sebagai Imam Syi’ah yang pertama berpindah-pindah dari jasad beliau kepada jasad 11 orang Imam (ada firqah Syi’ah menerima hanya 7 Imam). Imam yang ke-12 ( atau 7) bernama Muhammad bin Hasan al Mahdi dipercayai tidak mati tapi ghaib (konsep Imam Ghaib). Sayidinna Ali dipercayai akan muncul kembali ke dunia dalam jasad Imam yang ke-12, Imam Mahdi yang ghaib itu. Ini dipanggil I’tiqad Ar-Rajah oleh orang Syi’ah. (www.mindarakyat2.tripod.com. Diunduh hari Ahad, 29 Maret 2009 jam 12.22 wib.

[12] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, hal. 182

[13] Ahmad Fuad al-Ahwani, Tarbiyah fi al-Islam, (Mesir: Dar al-Ma’arif, tt), hal. 227-228 atau Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, hal. 184

[14] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 98- 99

[15] Sebagaimana pendapat Hasan Langgulung yang dikutip oleh Muis Sad Iman, Fitrah adalah potensi dasar yang baik. Fitrah mempunyai beberapa komponen. Pertama, potensi/ kemampuan dasar untuk beragama Islam, karena Islam adalah agama fitrah. Kedua, Nawahib dan Qabiliyat (tendensi/kecenderungan) yang mengacu kepada keimanan kepada Allah. Ketiga, Naluri dan kewahyuan (revealasi). Keempat, kemampuan dasar beragama (tidak mesti Islam), maksudnya tidak mungkin seseorang itu Atheis. (Muis Sad Iman, Pendidikan Partisipatif, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004), hal 25 atau Hasan Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1985), hal. 215

[16] Baca Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, hal. 182-183

[17] Baca C.A. Qadir, Filsafat Pendidikan Islam, Terj. Hasan Basari, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1991), hal. 59 atau Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, hal. 99

[18] Omar A. Farrukh dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam, hal. 183.

[19] Ibid, hal. 214-215

[20] Tafsir-tafsir esoteris atas al-Qur’an pada dasarnya disatukan melalui prinsip simbolisme, sebagaimana dipahami dalam pengertian tradisionalnya. Bahkan, simbolisme berfungsi sebagai kata kunci untuk semua itu sehingga tafsir-tafsir itu juga bisa disebut sebagai “tafsir-tafsir simbolis”. Proses penafsiran simbolis dan espteris disebut ta’wil, yang secara teknis bermakna hermeneutika simbolis dan spiritual. Akan tetapi secara etimologis, ia berarti membawa sesuatu kembali kepada awalnya, yaitu awal atau asal-usulnya; dengan demikian, membawa atau mengikuti simbol-simbol kembali kepada asal-usul yang dilambangkannya. (el-Hurr, Tafsir Esoteris Qur’an dalam www.telagahikmah.org. Diunduh 29 Maret 2009 jam 12.14 wib).

[21] Walaupun Ikhwan al-Shafa menyerukan pluralisme agama, mereka berpendapat bahwa agama terbaik dan paling sempurna (par exellence) adalah Islam. Al-Qur’an menghapuskan (mengakibatkan tidak berlakunya hukum) semua kitab yang diturunkan sebelumnya. Al-Qur’an sebagau kitab terakhir mengukuhkan isi (inti) kitab-kitab sebelumnya dan menghapuskan apa-apa yang bertentangan dengan ajarannya. Nabi Muhammad saw. adalah pemimpin (kepala) semua nabi dan beliau adalah nabi terakhir. Dia adalah penguasa atas segala penguasa; pada diri beliau Allah telah menyatukan unsur-unsur kepemimpinan dan kenabian, jadi para pengikutnya dapat menikmati kebahagiaan di dunia dan akhirat. (Omar A. Farrukh, hal. 215-216)

[22] www.samuderailmufortuna.blogspot.com.

[23] baca lebih lanjut, el-Hurr, Tafsir Esoteris Qur’an www.telagahikmah.org. atau Abdur-rahman Habil, Tafsir-tafsir Esoteris al-Qur’an.

[24] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), hal. 8

[25] Omar A. Farrukh dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam, hal. 186

[26] Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis, hal. 68.

PENDAHULUAN

Secara umum strategi diartikan sebagai suatu garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan.

Pada mulanya istilah strategi hanya digunakan dalam dunia militer yang diartikan sebagai cara penggunaan seluruh kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan. Namun, dewasa ini istilah strategi banyak dipinjam oleh bidang-bidang ilmu lain, termasuk ilmu pendidikan. Dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar strategi diartikan sebagai upaya guru dalam menciptakan suatu system lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses mengajar.

Strategi pembelajaran sangat diperlukan dalam dunia pendidikan karena strategi akan membantu pendidik dalam mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.

Ada beberapa jenis strategi pembelajaran yang dapat digunakan, antara lain:

  1. Strategi pembelajaran inquiri
  2. Strategi pembelajaran ekspositori
  3. Strategi pembelajaran sosial
  4. Strategi pembelajaran tingkah laku

Untuk pemahaman lebih lanjut maka pembahasan mengenai strategi pembelajaran dan hal-hal yang berkaitan dengannya, akan dibahas pada bab berikutnya.

PENGERTIAN STRATEGI BELAJAR MENGAJAR

Strategi secara etimologi berasal dari kata “stratagem” yang berarti siasat atau rencana. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas RI, 2003: 1092), kata strategi mengandung empat pengertian:

  1. Ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa untuk melaksanakan kebijakan tertentu dalam perang dan damai.
  2. Ilmu dan seni memimpin bala tentara untuk menghadapi musuh dalam perang, dalam kondisi yang menguntungkan.
  3. Rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus
  4. Tempat yang baik menurut siasat perang

Sedangkan pembelajaran adalah suatu proses upaya untuk mengarahkan timbulnya perilaku belajar peserta didik atau upaya untuk membelajarkan seseorang. Jadi secara umum strategi pembelajaran diartikan sebagai cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman kegiatan belajar pada siswa.

Berikut pengertian strategi dari beberapa ahli:

  • J R. David (1976)

Strategi adalah “a plan,  method, or series of actifities designed to achieves a particular educational goal”. Dengan demikian strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu

  • Kemp (1995)

Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.

  • Dick & Carey (1985)

Strategi pembelajaran adalah suatu sistem materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa

TAHAPAN MENGAJAR

Tahap pra instruksional (sebelum pelaksanaan KBM)

Tahap pra instruksional merupakan tahap awal yang ditempuh pada saat memulai proses pembelajaran. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pemakaian kata pra- mengandung makna sebelum. Tahap pra instruksional dilakukan antara lain melalui kegiatan:

  • Memberi kesempatan peserta didik untuk bertanya mengenai bahan pelajaran yang belum dikuasai dari pelajaran yang sudah dibelajarkan
  • Mengajukan pertanyaan pada peserta didik mengenai bahan yang telah dibelajarkan
  • Mengulang secara singkat semua aspek yang telah dibelajarkan

Tahap instruksional (pelaksanaan KBM)

Strategi instruksional merupakan spesifikasi bagaimana implikasi teori belajar diubah menjadi prosedur instruksional. Instruksional dapat diartikan sebagai pelaksanaan suatu program, berarti Tahap instruksional merupakan tahap pemberian atau pelaksanaan kegiatan pembelajaran yakni:

  • Materi, tugas, dan contoh-contoh
  • Penggunaan alat Bantu untuk memperjelas dan memudahkan proses pembelajaran
  • Serta menyimpulkan hasil pembelajaran

Tahap evaluasi (setelah pelaksanaan KBM)

Evaluasi berasal dari Bahasa Inggris “evaluation”, yang dalam Bahasa Arab diistilahkan dengan “taqyim” atau “taqwim” yang berasal dari kata Al-Qimah yang berarti nilai (value), jadi secara harfiah evaluasi pendidikan yang disebut taqwim at-tarbiyah dapat diterjemahkan sebagai penilaian dalam bidang kependidikan, atau penilaian terhadap kegiatan belajar mengajar.[1]

Proses evaluasi meliputi 2 langkah, yaitu:

  • Muqayas atau pengukuran (measurement)

Adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Penilaian ini bersifat kuantitatif. Contoh: Rita hanya mampu menjawab 3 pertanyaan dari 10 soal Bahasa Inggris

  • Penilaian (evaluation)

Adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian ini lebih bersifat kualitatif.[2] Contoh: Rita anak yang tidak pandai dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.

Tahap evaluasi dan tindak lanjut adalah tahap yang diperlukan untuk mengetahui keberhasilan tahap instruksional. Fungsi evaluasi, khususnya di bidang pendidikan, yang secara keseluruhan selalu berpusat pada kepentingan peserta didik, yaitu:

  • Insentif untuk meningkatkan belajar

Yaitu mendorong siswa untuk belajar lebih giat lagi, dengan cara memberikan insentif seperti: pujian, hadiah, dan nilai yang tinggi, dan lain-lain.

  • Umpan balik bagi peserta didik

Yaitu penilaian akan membantu siswa memperbaiki dan meningkatkan kemampuan serta keterampilan dalam berbagai mata pelajaran

  • Umpan balik bagi pendidik

Yaitu penilaian akan membantu pendidik dalam mengukur efektifitas pembelajaran

  • Informasi bagi orang tua / wali

Yaitu membantu orang tua untuk mengetahui kemajuan putra-putrinya di sekolah melalui buku laporan kemajuan belajar “rapor”, serta membantu orang tua dalam memberikan reinforcement

  • Informasi seleksi

Yaitu untuk menentukan dengan pasti di kelompok mana siswa ditempatkan[3]

Adapun tahapan evaluasi dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu sebelum kegiatan pembelajaran, selama kegiatan pembelajaran, dan sesudah terjadi kegiatan pembelajaran. Sehubungan dengan perincian ini, yang dilakukan oleh pendidik mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai ungkapan penilaian yang akan dicari jawabannya.

  • Sebelum kegiatan pembelajaran

Sebelum guru memulai dengan memberi pelajaran di awal tahun, pertanyaan yang dilontarkan adalah :

  • Apakah yang akan dicapai oleh siswa melalui pembelajaran ini ?
  • Apakah siswa sudah mempunyai bekal ?
  • Selama kegiatan pembelajaran

Yang dimaksud dengan selama kegiatan pembelajaran adalah suatu jarak waktu mulai pembelajaran berlangsung hingga saat berakhirnya pemberian pengajaran oleh guru. Beberapa pertanyaan yang harus terus menerus dilontarkan adalah

  • Apakah yang akan dicapai oleh siswa melalui pembelajaran ini ? (agar menjiwai setiap langkah pembelajaran)
  • Apakah langkah yang saya ambil sudah benar ?
  • Sesudah kegiatan pembelajaran

Jika guru sudah selesai memberikan pembelajaran (satu pertemuan atau satu semester), ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  • Apakah tujuan yang ingin dicapai oleh siswa sudah tercapai ?
  • Tujuan mana sajakah yang belum tercapai (individu / kelompok) ?
  • Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkannya (individu / kelompok) ?[4]

Sasaran pokok evaluasi mencakup peserta didik dan seluruh penyelenggara pendidikan mulai dari pendidi, kurikulum, sarana dan prasarana, metode pembelajaran, alat atau media dan seluruh unsur yang terlibat dalam proses KBM[5].

Empat masalah pokok yang sangat penting yang dapat menjadikan pedoman dalam keberhasilan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar:

Pertama, spesifikasi dan konflikasi perubahan tingkah laku yang bagaimana yang hendak dicapai dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan itu.

Kedua, memilih cara pndekatan belajar yang dianggap paling  tepat dan efektif untuk mencapai sasaran.

Ketiga, memilih dan menetapkan prosedur, metode dan tehnik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif .

Keempat, menetpkan norma-norma atau kriteria keberhasilan sehingga guru mempunyai pegangan yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai sampai sejauh mana keberhasilan tugas-tugas yang dilakukannya.

Menurut Tabrhani Rusyan dkk, ada berbagai masalah sehubungan dengan strategi belajar mengajar:

  1. Konsep dasar strategi belajar mengajar
    1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku
    2. Menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar mengajar, dan memilih prosedur, metode dan tehnik belajar mengajar,
    3. Norma dan kriteria keberhasilan kegiatan belajar mengaja
  1. Sasaran kegiatan belajar mengajar

Tujuan itu bertahap dan berjenjang yaknitujuan intruksional khusus dan tujuan intruksional umum, tujuan kulikuker, tujuan nasional.

PENDEKATAN BELAJAR MENGAJAR

  1. a. Enquiry Discovery Learning, belajar mencari dan menemukan sendiri materi.

Dalam sistem belajar mengajar ini, guru tidak menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk final, tetapi anak didik diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri dengan mempergunakan tehnik pendekatan pemecahan masalah. Secara garis besar, prosedurnya adalah:

  1. Simulation.Guru memulai proses belajar mengajar dengan bertanya mengajukan persoalan, atau menyuruh peserta didik membaca atau mendengarkan uraian yang  memuatpermasalahan.
  2. Problem  Statement. Anak didik yang diberi kesempatan mengidentifikasikan berbagai permasalahan, sebagian besar memilihnya yang dipandang paling menarik dan fleksibel untuk dipecahkan, selanjutnya harus dirumuskan  dalam bentuk pertanyaan atau hipotesis( jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan )
  3. Data collection( mengumpulkan data ).Untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis ini, siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, melakukan wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri, dan sebagainya
  4. Data processing ( mengolah data ). Semua informasi hasil bacaan, wawancara, diolah, diobservasi, serta disklafikasi.
  5. Verification. Berdasarkan hasil pengolalahan informasi uang ada, pertanyaan, atau hipotesis terdahulu dicek, terbukti atau tidak
  6. Generalation.Tahap selanjutnya berdasarkan hasil vertifikasi tadi, siswa bwlajar menarik kesimpulan atau generalisasi tertentu.

Sistem pendekatan ini dikembangkan Bruner dari hasil belajar dengan cara ini lebih mudah dihafal dan diingat, serta mudah ditrasfer untuk memecahkan masalah.

Keunggukan dan strategi pembelajaran Inquiry adalah

  • Strategi pembelajaran Inquiry yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, efektif dan psikomotorik secara seimbanng, dan sehingga pembelajaran ini dianggaplah bermakna
  • Strategi pembelajaran Inquiry memberikan ruang siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka
  • SPI merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern, yang mengaggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman
  • SPI dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.

Kelemahan Strategi Pembelajaran Inquiry

  • Sulit mengenal kegiatan dan keberhasilan siswa
  • Sulit merencanakan pembelajaran karena terbentuk dengan kebiasaan siswa dalam mengajar
  • Kesulitan dalam mengimplementasikan hasil pembelajaran[6]
  1. b. Expository learning, model informasi

Dalam sistem ini, guru menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematis, dan lengkap sehingga anak didik hanya menyimak dan mencernanya saja secara tertib dan teratur. Secara garis besar, prosedur ini adalah:

  1. Preperasi. Guru menyiapkan bahan selengkapnya secara sistematis dan rapi
  2. Arsepsi. Guru bertanya atau memberikan uraian singkat  untuk mengarahkan perhatian anak didik kepada materi yang akan diajarkan
  3. Presentasi. Guru menyajikan bahan dengan cara memberikan ceramah atau menyuruh siswa membaca bahan yang telah disiapkan dari buku teks tertentu atau yag ditulis guru sendiri
  4. Resitasi. Guru bertanya dan anak didik menjawab sesuai dengan bahan yang dipelajari, atau anaka didik disuruh menyatakan kembali dengan kata-kata sendiri tentang pokok masalah-masalah yang telah dipelajari, baik yang dipelajari secara tulisan maupun lisan

Keuggulan strategi pembelajaran Ekspositori,

  • Lebih mudah mengontrol urutan dan keluasan materi pelajaran, sehingga dapat mengetahui sampai sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang disampaikan
  • SPE sangat efektif, bila materi pelajaran cukup luas sementara waktu terbatas
  • Melalui SPE selain siswa dapat mendengar suatu materi pelajaran , juga dapat melihat atau mengobservasi ( melalui demonstrasi )
  • SPE bisda digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar

Kelemahan strategi pembelajaran Ekspositori

  • SPE hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik
  • SPE tidak dapat melayani prbedaan setiap individu
  • Karena SPE memberikan materi melalui ceramah maka akan sulit mengembangkan kemempuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan internasional, serta kemampuan berpikir kritis
  • Keberhasilan SPE sangat tercapai kepada yang dimiliki guru
  • Karena gaya komunikasi SPE satu arah ( one- way communication ) mengakibatkan pengetahuan yang dimiliki siswa akan terbatas.[7]

Keunggulan dan kelemahan pendekatan “Ekspositori” pemdekatan ekspositori agar bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran, sehingga dapat mengetahui

  1. c. Mastery learning

Sistem ini dikembangkan sebagai reaksi terhadap sistem yang dikembangkan oleh Bruner yang dipandang kurang efisien. Karena takut-takut belajar yang lebih tinggi, peserta didik tidak harus mengalaminya sendiri. Peserta akan lebih mampu dan lebih efisien memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya

  • Strategi pembelajaran interaksi sosial

Didasarkan kepada dua asumsi pokok, yaitu:

  1. Masalah-masalah sosial diindentifikasikan dan dipecahkan atas dasar kesepakatan-kesepakatan yang diperoleh dari dalam dan dengan menggunakan proses-proses sosial
  2. Proses sosial yang demokratis perlu dikembangkan unuk melakukan perbaikan di masyarakat dalam arti seluas-luasnya secara “bilding” dan terus-menerus
  • Strategi pembelajaran tingkah laku

Bertolak dari tingkah laku behavioristik, strategi pembelajaran kelompok ini mementingkan penciptaan sistem lingkungan yang memungkunkan manipulasi penggunaan tingkah laku (reinforcement ) secara efektif sehingga terbebtuk tingkah laku yang dikehendaki. Istilah tehnik yang lain yang dipergunakan untuk proes ini adalah “shaping “

Tahap-tahap pengelolahan dan pelaksanaan proses belajar mngajar dapat diperinci sebagai berikut:

  1. 1.            Perencanaan
  2. 2.            Pengorganisasian
  3. 3.            Pengarahan
  4. 4.            Pengawasan


BAB II

KESIMPULAN

Strategi pembelajaran sangat penting untuk tercapainya peningkatan mutu pendidikan. Ada bermacam-macam jenis strategi pembelajaran seperti strategi pembelajaran inquiry, ekspository, dll. Namun tidak semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Setiap strategi memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Oleh kareana itu dalam memilih strategi guru harus mampu memilih strategi yang dianggap sesuai dengan keadaan. Untuk itu ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan seperti tujuan, aktivitas, individualitas, dan integritas. Sehingga dengan pemilihan strategi pembelajaran yang tepat diharapkan terwujudnya proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif.

DAFTAR PUSTAKA

  • Arikunto, Suharsimi, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta: 2008
  • Rusyan, Tabrani, Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, PT Remaja Rosda Karya, Bandung: 1994
  • Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standart Proses Pendidikan, Kencana, Jakarta: 2008
  • Siddik, Dja’far, Konsep Dasar Ilmu Pendidikan Islam, Citapustaka Media, Bandung: 2006
  • Sabri, Ahmad. Strategi belajar mengajar dan micro teaching. Jakarta: Micro Teaching. 2005.

[1]Siddik, Dja’far, Konsep Dasar Ilmu Pendidikan Islam,  Bandung: Cita Pustaka Media, 2006, hlm. 153

[2]Arikunto, Suharsimi, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan,Jakarta: Bumi Aksara, 2008, hlm. 3

[3] Op-cit, hlm 157-161

[4] Op-cit, hlm. 8-9

[5] Ibid, hlm 163

[6] Sandjaya, Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2008, hlm. 208.

[7] Ibid, hlm. 190-191

BAB I. PENULISAN / PEMBUATAN

Kegiatan “mengukur” atau “melakukan pengukuran” adalah merupakan kegiatan yang paling umum dilakukan dan merupakan tindakan yang mengawali kegiatan evaluasi dalam penilaian hasil belajar. Kegiatan “mengukur” itu pada umumnya tertuang dalam bentuk tes dengan berbagai variasinya.

Teknik tes bukan satu-satunya teknik untuk melakukan evaluasi hasil belajar, sebab masih ada teknik lainnya yang dapat dipergunakan, yaitu teknik non-tes. Dengan teknik non-tes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa “menguji” peserta didik, melainkan dengan berbagai cara, seperti:

  1. Skala
  2. Angket
  3. Wawancara
  4. Observasi
  5. Dll.

1. SKALA

Pengertian

Skala adalah alat untuk mengukur nilai, sikap, minat, perhatian, yang disusun dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden dan hasilnya dalam bentuk rentangan nilai sesuai dengan kriteria yang ditentukan.

Jenis-jenis Skala

Skala penilaian

Skala penilaian mengukur penampilan atau perilaku orang lain oleh seseorang melalui pernyataan perilaku individu pada suatu kategori yang bermakna nilai. Titik atau kategori diberi nilai rentangan mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah. Rentangan bisa dalam bentuk huruf, angka, kategori seperti; tinggi, sedang, baik, kurang, dsb.

Contoh:

Skala Penilaian

Penampilan Guru Mengajar

Nama guru: ……………………… Bidang studi yang diajarkan: ………………………

No Pernyataan Skala nilai
A B C D
1.2.3.

 

4.

5.

Penguasaan bahan pelajaranHubungan dengan siswaBahasa yang digunakan

 

Pemakaian metode dan alat bantu mengajar

Jawaban terhadap pertanyaan siswa

Keterangan

A: baik sekali           C: cukup

B: Baik                     D: kurang

Hal yang penting diperhatikan dalam skala penilaian adalah kriteria skala nilai, yakni penjelasan operasional untuk setiap alternatif jawaban. Adanya kriteria yang jelas untuk setiap alternatif jawaban akan mempermudah pemberian penilaian dan terhindar dari subjektivitas penilai. Tugas penilai hanya memberi tanda cek (V) dalam kolom rentangan nilai. Penyusunan skala penilaian hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Tentukan tujuan yang akan dicapai dari skala penilaian ini sehingga jelas apa yang seharusnya dinilai.
  2. Berdasarkan tujuan tersebut, tentukan aspek atau variabel yang akan diungkap melalui instrumen ini.
  3. Tetapkan bentuk rentangan nilai yang akan digunakan, misalnya nilai angka atau kategori.
  4. Buatlah item-item pernyataan yang akan dinilai dalam kalimat yang singkat tetapi bermakna secara logis dan sistematis.
  5. Ada baiknya menetapkan pedoman mengolah dan menafsirkan hasil yang diperoleh dari penilaian ini.

Skala yang penilaiannya tidak dibuat dalam bentuk rentangan nilai tetapi hanya mendiskripsikan apa adanya, disebut daftar checklist.

Skala sikap

Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif), menolak (negatif), dan netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang. Sikap juga dapat diartikan reaksi seseorang terhadap suatu stimulus yang datang pada dirinya.

Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden, apakah pernyataan itu didukung atau ditolak, melalui rentangan nilai tertentu. Oleh sebab itu, pernyataan yang diajukan dibagi ke dalam dua kategori, yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif. Pernyataan sikap, di samping kategori positif dan negatif, harus pula mencerminkan dimensi sikap, yakni kognisi, afeksi, dan konasi.

Bentuk Skala Sikap

Bentuk skala yang dapat di pergunakan dalam pengukuran bidang pendidikan yaitu:[1]

1.Skala Likert

Skala likert ialah skala yang dapat di pergunakan untuk mengukur sikap,pendapat,dan persepsi seseorang atau sekelompok  orang tentang suatu gejala atau fenomena pendidikan. Skala ini memuat item yang diperkirakan sama dalam sikap atau beban nilainya, subjek merespon dengan berbagai tingkat intensitas berdasarkan rentang skala antara dua sudut yang berlawanan, misalnya:

Setuju – tidak setuju

Suka – tak suka

Menerima –menolak

Model skala ini banyak digunakan dalam kegiatan penelitian, karena lebih mudah mengembangkannya dan interval skalanya sama.

Contoh:

Semua peserta latihan dapat menyusun program studinya sendiri.

Alternatif jawaban :

Sangat setuju ( SS ), Setuju ( S ), Ragu-Ragu ( RR ), Sangat Tidak Setuju ( STS )

2. Skala Guttman

Skala guttman yaitu skala yang mengiginkan tipe jawan tegas, seperti jawaban benar salah,ya – tidak, pernah – tidak pernah,positif- negatif, tinggi –rendah, baik –buruk, dan seterusnya.pada skala Guttman ada dua interval yaitu setuju dan tidak setuju.selain dapat dibuat dalam bentuk pertanyaan pilihan ganda, skala Guttman dapat juga dibuat dalam bentuk daftar checklist.

3. Semantik Differensial

Skala differensial yaitu skala untuk mengukur sikap,tetapi bentuknya bukan pilihan ganda atau checklis, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum dimana jawaban yang sangat positif terletak dibagian kanan garis,dan jawaban negatif disebelah kiri garis, atau sebaliknya.

Data yang diperoleh melalui pengukuran dengan skala mantik differensial adalah data interval. Skala ini digunakan untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu yang dimiliki seseorang. Sebagai contoh penggunaan skala semantik differensial ialah menilai gaya kepemimpinan kepala sekolah.

4. Rating Scale

Data –data skala yang diperoleh melaui tiga macam skala diatas adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Berbeda dengan rating scale,data yang diperoleh adalh data kuanitatif(angka) yakng kemudian ditafsirkan dalm pengertian kualitatif. Skala ini lebih fleksibel, tidak saja untuk mengukur sikap tetapi juga digunakan untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lingkungan, seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, pengetahuan,kemampuan,dan lain-lain.

5. Skala Thurstone

Skala thurstone ialah skala yang disusun dengan memilih butir yang berbentuk skala interval. Setiap butir memiliki kunci skor dan jika diurut, kunci skor menghasilkan nilai yang berjarak sama. Skala thurstone dibuat dalam bentuk sejumlah (40-50) pertanyaan yang relevan dengan variabel yang hendak diukurkemudian sejumlah ahli (20-40) orang yang menilai relevansi pertanyaan itu dengan konten atau konstruk variabel yang hendak diukur. Nilai 1 pada skala diatas menyatakan sangat tidak relevan, sedangkan nilai 11 menyatakan sangat relevan.    

Prosedur Penyusunan Skala Sikap

Langkah-langkah penyusunan skala pada umumnya adalah:[2]

  1. Tentukan objek yang dituju, kemudian tetapkan variabel yang akan diukur dengan skala tersebut
  2. Lakukan analisis variabel tersebut menjadi beberapa subvariabel atau dimensi variabel, lalu kembangkan indikator setiap dimensi tersebut
  3. Dari setiap indikator, tentukan ruang lingkup pernyataan sikap yang berkenaan dengan aspek kognisi, afeksi, dan konasi terhadap objek sikap.
  4. Susunlah pernyataan untuk masing-masing aspek tersebut dalam dua kategori yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif, secara seimbang banyaknya.

Prosedur Penyusunan Item Utuk Skala Sikap

Pada garis besarnya penysunan item untuk skala, perlu ditempuh langkah – langkah sebagai berikut:[3]

  1. Tentukan obyek atau gejala apa
  2. Rumuskan perilaku apa yang mengacu sikap apa terhadap obyek atau gejala tersebut
  3. Rumuskan karakteristik dari perilaku sikap tersebut
  4. Rincilah lebih lanjut tiap karekteristik menjdi sejumlah atribut yang lebih speifik.
  5. Tentukan indicator penilaian terhadap setiap atribut tersebut
  6. Sususnlah perangkat item sesuai dengan indicator yang telah dirumuskan
  7. suatu skala terdiri dari antara 20 sampai dengan 30 item
  8. Susunlah item tersebut, yang terdiri dari separuhnya dalam bentuk pernyataan positif dan separuhnya dalm bentuk pernyataan negative
  9. Tentukan banyak skala: lima atau  tujuh atau sebelas alternative
  10. tentukan bobot nilai bagi tiap skalanya. Misalnya 4,3,2,1.0 untuk lima nilai skala, sebagai dasar perhitungan kuantitatif.

Contoh:[4]

Misalnya menilai bagaimana sikap siswa terhadap mata pelajaran matematika di sekolah. Subvariabelnya adalah:

a)      sikap terhadap tujuan dan isi mata pelajaran matematika

b)      sikap terhadap cara mempelajari mata pelajaran matematika

c)      sikap terhadap guru mata pelajaran matematika

d)     dst

setiap subvariabel tersebut kemudian dijabarkan indikator-indikatornya:

1)      paham dan yakin akan pentingnya tujuan dan isi matematika

2)      kemauan untuk mempelajari materi matematika

3)      kemauan untuk menerapkan atau menggunakan konsep matematika

4)      dst.

SKALA SIKAP

Jenis kelamin       : …………………………………..

Umur                     : ………………………………….. tahun

Kelas/ semester    : …………………………………..

Petunjuk:

Terhadap setiap pernyataan di bawah ini Anda diminta menilainya dengan cara memilih salah satu di antara sangat setuju, setuju, tidak punya pendapat, tidak setuju, dan sangat tidak setuju.

Pernyataan Sangat setuju Setuju Tidak punya pendapat Tidak setuju Sangat tidak setuju
  1. Saya tidak perlu memahami tujuan pelajaran matematika
  2. Pelajaran matematika harus menarik minat siswa
  3. Konsep-konsep yang ada dalam matematika terlalu abstrak
  4. Dst.

Tanda tangan responden

………………………………………………….

2. ANGKET

Angket juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam rangka penilaian hasil belajar. Berbeda dengan wawancara dimana penilaian (evaluator) berhadapan secara langsung dengan peserta didik atau dengan pihak lainnya, maka dengan menggunakan angket, pengumpulan data sebagai bahan penilaian hasil belajar  jauh lebih praktis,menghemat waktu dan tenaga.

Petunjuk yang lebih teknis dalam membuat kuesioner adalah sebagai berikut:[5]

  1. Mulai dengan pengantar yang isinya permohonan mengisi kuesioner sambil dijelaskan maksud dan tujuannya.
  2. Jelaskan petunjuk atau cara mengisinya supaya tidak salah
  3. Mulai dengan pertanyaan untuk mengungkapkan responden
  4. Isi pertanyaan sebaiknya dibuat beberapa kategori atau bagian sesuai dengan variabel yang diungkapkan sehingga mudah mengolahnya.
  5. Rumusan pertanyaan dibuat singkat, tetapi jelas sehingga tidak membingungkan dan mengakibatkan salah penafsiran.
  6. Hubungan antara pertanyaan yang satu dengan yang lain harus dijaga sehingga tampak logikanya dalam satu rangkaian yang sistematis.
  7. Usahakan kemungkinan agar jawaban, kalimat, atau rumusannya tidak lebih panjang dari pertanyaan.
  8. Kuesioner yang terlalu banyak atau terlalu panjang akan melelahkan dan membosankan responden sehingga pengisiannya tidak akan objektif lagi.
  9. Ada baiknya kuesioner diakhiri dengan tanda tangan si pengisi untuk menjamin keabsahan jawabannya.

Contoh 1 : Kuesioner Bentuk Pilihan Ganda untuk Mengungkap Hasil Belajar Ranah Afektif (Kurikulum dan GBPP mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Tahun 1994)[6]

  1. Terhadap teman-teman sekelas saya yang rajian dan khusu’ dalam menjalankan ibadah shalat, saya:
  1. Merasa tidak harus meniru mereka
  2. Merasa belum pernah memikirkan untuk shalat dengan rajin dan khusu’
  3. Merasa ingin seperti mereka, tetap[i terasa masih sulit
  4. Sedang berusaha agar rajin dan khusu’
  5. Merasa iri hati dan ingin seperti mereka.

Contoh 2 : Kuesioner Bentuk Skala Likert dalam Rangka Mengungkap Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Ranah Afektif[7]

  1. Membayar infaq atau shadaqah itu memang baik untuk dikerjakan, akan tetapi sebenarnya bagi orang yang telah membayarkan zakatnya tidak perlu lagi untuk membayar infaq atau shadaqah.

Terhadap pertanyaan tersebut, saya:

  1. Sangat setuju
  2. Setuju
  3. Ragu-ragu
  4. Tidak setuju
  5. Sangat tidak setuju

Kuesioner sebagai alat evaluasi juga sangat berguna untuk mengungkap latar belakang orang tua peserta didik maupun peserta didik itu sendiri, dimana data yang berhasil diperoleh melalui kuesioner itu pada suatu saat akan diperlukan, terutama apabila terjadi kasus-kasus tertentu yang menyangkut diri peserta didik. Contoh dari kuesioner dimaksud diatas adalah sebagai berikut:[8]

I.ORANG TUA SISWA:

A. Ayah

1. nama lengkap ayah               :

2. tempat dan tanggal lahir     :

3. jenjang pendidikan               :  a. (  ) pendidikan dasar

b. (  ) pendidika menengah

c. (  ) pendidikan tinggi

4. jenis pekerjaan                      :  a. (  ) petani

b. (  ) pedagang

c. (  ) pengusaha

d. (  ) pegawai negri sipil

e. (  ) Anggota ABRI

f. (  ) Tidak mempunyai pekerjaan tetap

B. Ibu

1. nama lengkap                           :

2. tempat dan tanggal lahir          :

3. jenjang pendidikan                   :a. (  ) pendidika dasar

b. (  ) pendidikan menengah

c. (  ) pendidikan tinggi

4.jenis pekerjaan                          : a. (  ) petani

b. (  ) pedagang

c. (  ) Pegawai Negri Sipil

e. (  ) AnggotaABRI

f. (  ) Tidak bekerja

II. SISWA :

1. Nama lengkap                      :

2. tempat dan tanggal lahir      :

3. jenis kelamin                        : a. (  ) Pria

b. (  ) Wanita

4. status anak dalam keluarga  : a. (  ) Anak sulung

b. (  ) anak bungsu

c. (  ) anak ke……

5. jumlah saudara kandung         : ……..orang

6.Tinggal bersama ayah ibu        : a. (  ) ya

b. (  ) tidak

7.pernah dirawat dirumah sakit   : a. (  ) belum pernah

Yang serius?                            b. (  ) pernah, karena menderita sakit……..

…………….dan seterusnya………………………………

3. WAWANCARA

Pengertian

Secara umum yang dimaksud dengan wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan. Ada dua jenis wawancara yang dapat digunakan sebagai alat evaluasi, yaitu:

  1. Wawancara terpimpin (guided Interview) yang juga dikenal dengan istilah wawancara berstruktur atau wawancara sistematis
  2. Wawancara tidak terpimpin (unguided Interview) yang sering dikenal dengan wawancara sederhana atau wawancara tidak sistematis ataupun wawancara bebas

Mempersiapkan Wawancara

Sebelum melaksanakan wawancara, perlu dirancang pedoman wawancara. Pedoman ini disusun dengan langkah-langkah sebagai berikut:[9]

  1. Tentukan tujuan yang ingin dicapai dari wawancara.
  2. Berdasarkan tujuan di atas tentukan aspek-aspek yang akan diungkap dari wawancara tersebut. Aspek-aspek tersebut dijadikan dasar dalam menyusun materi pertanyaan wawancara.
  3. Tentukan bentuk pertanyaan yang akan digunakan, yakni bentuk berstruktur atau bentuk terbuka
  4. Buatlah pertanyaan wawancara sesuai dengan analisis butir (c) di atas, yakni membuat pertanyaan yang berstruktur atau yang bebas
  5. Ada baiknya apabila dibuat pula pedoman mengolah dan menafsirkan hasil wawancara.

Contoh pedoman wawancara terbuka:

Tujuan                        : Memperoleh informasi mengenai cara belajar yang dilakukan oleh siswa di rumahnya

Bentuk                        : Wawancara bebas

Responden                 : Siswa yang memperoleh prestasi belajar cukup tinggi.

Nama siswa                : ……………………………………………………

Kelas / semester         : ……………………………………………………

Jenis kelamin             : ……………………………………………………

Pertanyaan guru Jawaban siswa Komentar dan kesimpulan hasil wawancara
  1. kapan dan berapa lama anda belajar di rumah?
  2. bagaimana cara anda mempersiapkan diri untuk belajar secara efektif?
  3. kegiatan apa yang anda lakukan pada waktu mempelajari bahan pelajaran?
  4. seandainya anda mengalami kesulitan dalam mempelajarinya, usaha apa yang anda lakukan untuk mengatasi kesulitan tersebut?
  5. bagaimana cara yang anda lakukan untuk mengetahui tingkat penguasaan belajar yang telah anda capai?
  6. dst.

Tanggal, bulan, tahun

Pewawancara

……………………………….

4. PENGAMATAN

Pengertian

Pengamatan merupakan cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan / observasi. Observasi sevagai alat evaluasi banyak digunakan untuk menilai tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan.

Macam-Macam Observasi

Observasi dapat dilakukan secara:[10]

  1. Partisipatif

Observer (dalam hal ini pendidik yang sedang melakukan kegiatan observasi) melibatkan diri di tengah-tengah kegiatan observee (yang diamati)

  1. Non-Partisipatif

Evaluator / observer berada “di luar garis”, seolah-olah sebagai penonton belaka.

  1. Eksperimental

Observasi yang dilakukan dalam situasi buatan. Pada observasi eksperimental, peserta didik dikenai perlakuan (treatment) atau suatu kondisi tertentu, maka diperlukan perencanaan dan persiapan yang benar-benar matang.

  1. Non- Eksperimental

Observasi dilakukan dalam situasi yang wajar, pelaksanaannya jauh lebih sederhana

  1. Sistematis

Observasi yang dilakukan dengan terlebih dahulu membuat perencanaan secara matang. Pada jenis ini, observasi dilaksanakan dengan berlandaskan pada kerangka kerja yang memuat faktor-faktor yang telah diatur kategorisasinya.

  1. Non-sistematis

Observasi di mana observer atau evaluator dalam melakukan pengamatan dan pencatatan tidak dibatasi oleh kerangka kerja yang pasti, maka kegiatan observasi hanya dibatasi oleh tujuan dari observasi itu sendiri.

Membuat Pedoman Observasi

Langkah yang ditempuh dalam membuat pedoman observasi langsung adalah sebagai berikut :[11]

  1. Lakukan terlebih dahulu observasi langsung terhadap suatu proses tingkah laku, misalnya penampilan guru di kelas. Lalu catat kegiatan yang dilakukannya dari awal sampai akhir pelajaran. Hal ini dilakukan agar dapat menentukan jenis perilaku guru pada saat mengajarkan sebagai segi-segi yang akan diamati
  2. Berdasarkan gambaran dari langkah ( a ) di atas, penilai menentukan segi-segi mana dari perilaku guru tersebut yang akan diamati sehubungan dengan keperluannya. Urutkan segi-sejgi tersebut sesuai dengan apa yang seharusnya berdasarkan khasanah pengetahuan ilmiah, misalnya berdasarkan teori mengajar. Rumusan tingkah laku tersebutu harus jelas dan spesifik sehingga dapat diamati oleh pengamatnya
  3. Tentukan bentuk pedoman observasi tersebut, apakah benruk bebas ( tak perlu jawaban, tetapi mencatat apa yang tampak ) atau pedoman yangn berstruktur ( memakai kemungkinan jawaban ). Bila dipakai bentuk yang berstruktur, tetapkan pilihan jawaban serta indikator-indikator dan setiap jawaban yang disediakan sebagai pegangan bagi pengamat pada saat melakukan observasi nanti
  4. Sebelum observasi dilaksanakan, diskusikan dahulu pedoman observasi yang telah dibuat dan calon observanagar setiap segi yang diamati dapat dipahami maknanya dan bagaimana cara mengisinya.
  5. Bila ada hal khusus yang menarik,tetapi tidak ada dalam pedoman observasi, sebaiknya diadakan catatan khusus atau komentar pengamat di bagian akhir pedoman observasi.

Pencatatan hasil observasi itu pada umumnya jauh lebih sukar daripada mencatat jawaban-jawaban yang diberikan oleh peserta didik terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dalam suatu tes. Pencatatan terhadap segala sesuatu yang dapat disaksikan dalam observasi itu penting sekali sebab hasilnya akan dijadikan landasan untuk menilai makna yang terkandung di balik tingkah laku peserta didik tersebut. Pedoman observasi itu wujud kongkretnya adalah sebuah atau beberapa buah formulir (blangko atau form) yang di dalamnya dimuat segi-segi, aspek-aspek atau tingkah laku yang perlu diamati dan dicatat pada waktu berlangsungnya kegiatan peserta didik.

Contoh:

Mata Pelajaran      : Keterampilan

Topik                       : Membuat Kaligrafi dari kertas

Kelas                        : ……………………………………………………

Nama Siswa           : ……………………………………………………

Hari & Tanggal      : ……………………………………………………

Jam Pelajaran        : ……………………………………………………

No Kegiatan / Aspek yang dinilai Skor / Nilai Keterangan
1.2.3.

 

4.

5.

6.

7.

8.

Persiapan alat-alat ( bahan )Kombinasi bahanKombinasi warna

 

Cara mengerjakan

Sikap waktu mengerjakan

Ketetapan waktu mengerjakan

Kecekatan

Hasil pekerjaan

………………

 

……

……

……

……

……

Jumlah nilai ……

Hasil penilaian dengan menggunakan instrumen tersebut diatas sifatnya adalah individual. Setelah selesai, nilai-nilai individual itu dimasukkan ke dalam daftar nilai yang sifatnya kolektif, seperti contoh berikut ini:

Mata pelajaran      : Keterampilan

Topik                        : Membuat Kaligrafi dari kertas

Kelas                        : …………………………………………..

Cawu/semester       : …………………………………………..

No. Nama Siswa Skor / Nilai untuk tiap-tiap kegiatan / Aspek Jumlah Rata-rata
1 2 3 4 5 6 7 8
1.2.3.

 

4.

…………………………………………………………………………………

 

………………………….

Dan seterusnya

………

 

………

 

………

 

… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …………………………………. ……………….. ……………….. ……………….. ……………….. ……………….. ………………..

Contoh Instrumen Observasi berupa rating scale, dalam rangka menilai sikap peserta didik dalam mengikuti pengajaran pendidikan agama islam di sekolah:

Nama siswa          : ……………………….

Kelas                      : ……………………….

No. Kegiatan / aspek yang dinilai Selalu Sering Kadang-kadang Tidak pernah
1.2.3.

 

4.

5.

6.

7.

Datang tepat pada waktunyaRapi dalam berpakaianRapi dalam menulis dan mengerjakan pekerjaan

 

Menjaga kebersihan badan

Hormat kepada guru

Rukun dengan teman-teman sekelasnya

Dan seterusnya…

Jumlah skor

BAB II. PENGOLAHAN DATA HASIL NON TES

Pada umumnya data hasil nontes bertujuan untuk mendeskripsikan hasil pengukuran sehingga dapat dilihat kecenderungan jawaban responden melalui alat ukur tersebut. Misalnya bagaimana kecenderungan jawaban yang diperoleh dari wawancara, kuesioner, observasi, skala.

Pengolahan data hasil wawancara dan kuesioner

Dari data hasil wawancara dan atau kuesioner pada umumnya dicari frekuensi jawaban responden untuk setiap alternatif yang ada pada setiap soal. Frekuensi yang paling tinggi ditafsirkan sebagai kecenderungan jawaban alat ukur tsb, seperti;

Contoh: Melalui kuesioner ataupun wawancara diungkapkan pandangan siswa mengenai guru yang diharapkan dalam:

  1. Kemampuan mengajar
  2. Hubungan dengan siswa

Kuesioner atau wawancara diajukan kepada 40 orang siswa dengan pertanyaan sbb.:

  1. Guru yang saya harapkan adalah guru yang:
  1. Menguasai bahan pelajaran atau pandai dalam bidang ilmunya.
  2. Cara menjelaskan bahannya dapat saya pahami sekalipun tidak begitu pandai/
  3. Pandai dalam bidang ilmunya dan dapat menjelaskannya kepada siswa dengan baik.
  4. Sebaiknya dimulai dari yang umum, kemudian dibahas secara khusus
  5. Sebaiknya dimulai dari yang khusus, kemudian menuju kepada yang umum.
  6. Dimulai dari mana saja asal dijelaskan secara sistematis.
  1. Pada waktu mengerjakan bahan pelajaran:

…dan seterusnya…

Kuesioner yang telah diisi oleh siswa kemudian diperiksa dan diolah dengan menghitung frekuensi jawaban seluruh siswa terhadap setiap pertanyaan tersebut. Misalnya hasil pemeriksaan tersebut sbb.:[12]

Tabel 1: Frekuensi jawaban siswa

Mengenai masalah kemampuan guru mengajar (n=40)

Masalah yang diungkapkan F % Peringkat jawaban
  1. Kemampuan mengajar

1.1.    Kemampuan mengajar

  1. Menguasai bahan
  2. Mampu menjelaskan bahan
  3. Menguasai bahan dan mampu menjelaskannya

1.2.   Prosedur mengajarkan bahan pelajaran

  1. Dimulai dari yang umum
  2. Dimulai dari yang khusus
  3. Harus sistematis
412

 

24

10

6

24

1030

 

60

25

12

60

32

 

1

2

3

1

Cara lain dalam mengolah data diatas ialah dengan menggunakan khi kuadrat (x2) rumus yang digunakan :

Dalam khi kuadrat, yang dicari ialah adakah perbedaan yang berarti di antara frekuensi hasil; pengamatan atau jawaban nyata (fo ) dengan frekuensi jawaban yang diharapkan ( fe ). Jika ada perbedaan, artinya jawaban tersebut betul-betul adanya, bukan karena faktor kebetulan.

Contoh:

Kita ambil jawaban nomor 1 dari tabel 1

Jawaban fo fe
a.menguasai bahanb.mampu menjelaskanc. menguasai bahan dan dapat menjelaskannya 41224 13,313,313,3 6,500,138,61
X2 = 15,24

Ket:

  • Fe = 13,3 diperoleh dari 40 / 3 = 13 3
  • Harga x2 = 15,24 kemudian dibandingkan dengan harga tabel untuk tingkat kepercayaan 0,05 dengan derajat bebas 3-1 (alternatif jawaban = 3)
  • Harga x2 dalam tabel = 5,99.

Dengan demikian x2 = 15,24 > 5,99 sehingga perbedaan itu cukup berarti ini berarti bahwa interpretasi yang menyatakan bahwa guru yang diharapkan adalah guru yang menguasai bahan dan dapat menjelaskannya pada siswa adalah sah sebagai kesimpulan dari data tsb.

Pengolahan data hasil observasi

Contoh: [13]

OBSERVASI KEMAMPUAN GURU DALAM MENGAJAR

Nama guru            : ………………………..                                 Pendidikan :…………………………..

Aspek yang diamati Nilai pengamatan
4 3 2 1
  1. Penguasaan bahan
  2. Kemampuan menjelaskan bahan
  3. Hubungan dengan siswa
  4. Penguasaan kelas
  5. Keaktifan belajar siswa
vv vvv

Pengamat,

…………………………

Dari contoh di atas skor hasil observasi adalah

3 + 4 + 3 + 4 + 3 = 17

Nilai rata-rata untuk kelima aspek tsb. Adalah 17/5 = 3,4. Skor ini cukup tinggi sebab maksimum rata-rata atau skor maksimum untuk setiap aspek adalah 4 atau 20 untuk semua aspek (5×4).

Skor ini bisa juga dikonversikan ke dalam bentuk standar 100 atau standar 10.

  • Konversi ke dalam standar 100 adalah 17/20 x 100 = 85
  • Konversi ke dalam standar 10 adalah 17/20 x 10 = 8,5

Jika dibuat interpretasi untuk setiap aspek, maka dapat disimpulkan bahwa guru  tersebut  sangat istimewa dalam hal kemampuan menjelaskan dan penggunaan kelas, sedangkan dalam penguasaan bahan, komunikasi dengan siswa, dan dalam mengaktifkan siswa termasuk memuaskan.

Pengolahan data skala penilain atau skala sikap

Data hasil skala pengolahannya hampir sama dengan pengolahan data hasil observasi yang menggunakan skor atau nilai dalam pengamatannya. Dengan demikian, untuk setiap siswa yang diukur melalui skala penilaian atau skala sikap bisa ditentukan;

a)      Perolehan skor dari seluruh butir pertanyaan,

b)      Skor rata-rata dari setiap pertanyaan dengan membagi jumlah skor oleh banyaknya pertanyaan

c)      Interpretasi terhadap pertanyaan mana yang positif atau baik dan pertanyaan atau aspek mana yang negatif atau kurang baik

Lebih jauh lagi data hasil penilaian dan skala sikap sebenarnya menyerupai data hasil tes, dengan demikian dapat diolah seperti mengolah data hasil tes.

Untuk skala sikap, berilah skor terhadap jawaban siswa dengan ketentuan sbb: untuk pernyataan positif (mendukung) ialah 5 untuk sangat setuju, dst. Untuk pernyataan negatif (menolak) ialah 5 untuk sangat setuju, dst.

Konversi Nilai

Standar yang sering digunakan dalam menilai hasil belajar dapat dibedakan ke dalam bebrapa kategori, yakni:

  1. Standar seratus (0-100)
  2. Standar sepuluh (0-10)
  3. Standar empat (1-4) atau dengan huruf (A-B-C-D)

Dalam konversi nilai digunakan dua cara, yakni:

a. Konversi tanpa menggunakan nilai rata-rata dan simpangan baku.

Cara ini sangat sederhana, yakni dengan menentukan kriteria sebagai dasar untuk melakukan konversi nilai.

Skor (%) Nilai konversi
Huruf Standar 10 Standar 4
(90-99)(80-89)(70-79)

 

(60-69)

Kurang dari 60

ABC

 

D

E (gagal)

9 / 1087

 

6

Gagal

432

 

1

Gaga

  1. b. Konversi nilai dengan menggunakan nilai rata-rata dan simpangan baku

Konversi nilai ini perlu dihitung terlebih dahulu nilai rata-rata dan simpangan baku yang diperoleh siswa, kemudian terhadap nilai-nilai atai skor mentah tersebut dilakukan konversi. Kriteria yang digunakan untuk melakukan konversi skor mentah ke dalam standar 10 adalah sebagai berikut:

M + 2,25 S      = 10

M + 1,75 S      =   9

M + 1,25 S      =   8

M + 0,75 S      =   7

M + 0,25 S      =   6                             M = nilai rata-rata

M –  0,25 S      =   5                             S  = Simpangan baku (deviansi standar)

M –  0,75 S      =   4

M –  1,25 S      =   3

M –  1,75 S      =   2

M –  2,25 S      =   1

Contoh:

Tes diberikan kepada siswa dalam bentuk tes objektif sebanyak 90 soal. Setiap soal yang dijawab benar diberi skor satu sehingga skor maksimum yang dapat dicapai siswa adalah 90. setelah diperiksa, ternyata skor yang paling tinggi mencapai 50 dan skor terendah 30. nilai rata-rata (setelah dihitung) adalah 40 dan simpangan bakunya 4,0.

Dengan menggunakan rumus atau kriteria tersebut, diperoleh nilai dalam standar sepuluh sebagai berikut:

Standar 10

40 + (2,25) (4,0)          = 49                             10

40 + (1,75) (4,0)          = 47                               9

40 + (1,25) (4,0)          = 45                              8

40 + (0,75) (4,0)          = 43                               7

40 + (0,25) (4,0)          = 41                               6 (batas lulus)

40 –  (0,25) (4,0)          = 39                               5

40 –  (0,75) (4,0)          = 37                               4

40 –  (1,25) (4,0)          = 35                               3

40 –  (1,75) (4,0)          = 33                               2

40 –  (2,25) (4,0)          = 31                               1

Konversi lainnya adalah konversi skor mentah ke dalam standar huruf dan standar empat. Dalam standar ini huruf A setara dengan 4, artinya istimewa; huruf B setara dengan 3, artinya memuaskan; dst. Kriteria yang digunakan pada dasarnya tidak berbeda dengan kriteria untuk konversi nilai ke dalam standar 10.

Secara sederhana untuk nilai C berada pada nilai rata-rata atau deviasi standar nol. Untuk menentukan kedudukan nilai, perlu dicari batas bawah dan batas atas setiap nilai. Ukuran atau kriterianya adalah sebagai berikut:

Nilai    Batas bawah    Batas atas

D         M – 1,5 S        M – 0,5 S

C         M – 0,5 S        M + 0,5 S

B         M + 0,5 S        M + 1,5 S

A         M + 1,5 S        M + 2,5 S

Contoh:

Apabila berdasarkan perhitungan diperoleh nilai rata-rata (M) = 40 dan simpangan baku (S) = 10, mak konversi nilainya menjadi:

Batas bawah D = 40 – 1,5 (10) = 25

Batas bawah D = 40 – 0,5 (10) = 35

Dst., maka hasilnya adalah:

Skor                 Nilai

25-35                              D (1)

36-45                              C (2)

46-55               B (3)

56-60               A (4)

DAFTAR PUSTAKA

  • Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, cetakan ketiga. Bandung: PT Remaja RosdaKarya. 1991
  • H. Djaali dan  Pudji Mulyono. Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: PT Grasindo. 2008.
  • Sudijono, Anas. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2007.
  • Hamalik, Oemar. Teknik Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan. Bandung: Mandar Maju. 1989
  • Rosnita. Evaluasi Pendidikan. Bandung: Cita Pustaka Media. 2007.
  • Majid, Abdul. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja RosdaKarya. 2007.
  • Arikunto, Suharsimi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. 2003


[1] H. Djaali dan  Pudji Mulyono, Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan , Jakarta: PT Grasindo, 2008, hlm. 28-30

 

[2] Nana Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, cetakan ketiga. Bandung: PT Remaja RosdaKarya. 1991, hlm 81

[3] Oemar Hamalik, Teknik Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan. Bandung: Mandar Maju, 1989, HLM. 108-111

[4] Opcit,hlm. 82-84

[5] Ibid, hlm. 71

[6] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007, hlm. 84

[7] Ibid, hlm. 87

[8] Ibid, hlm. 87

[9] Nana Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, cetakan ketiga. Bandung: PT Remaja RosdaKarya. 1991, hlm. 69.

[10] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007, hlm. 77-78

[11] Nana Sudjana,  Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, cetakan ketiga, Bandung: PT Remaja RosdaKarya, 1991, hlm. 85-86

[12] Nana Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, cetakan ketiga. Bandung: PT Remaja RosdaKarya. 1991, hlm. 129-130

[13] Ibid, hlm. 132

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!